Pencarian

PIS Pasang Satellite Tag Hiu Paus di Derawan, Lindungi Jalur Pelayaran

Jumat, 11 September 2026 • 08:37:31 WIB
PIS Pasang Satellite Tag Hiu Paus di Derawan, Lindungi Jalur Pelayaran
PIS memasang satellite tag pada hiu paus di perairan Derawan untuk memantau pergerakan spesies tersebut.

SULAWESI BARATJakarta — Anak usaha Pertamina di bidang pelayaran itu menggandeng lembaga swadaya masyarakat Konservasi Indonesia untuk memantau pergerakan hiu paus lewat teknologi penanda satelit. Program bertajuk Whaleshark Tagging ini menjadi bagian dari upaya PIS menyeimbangkan bisnis logistik laut dengan pelestarian ekosistem.

Hiu paus berstatus Terancam Punah (Endangered) menurut International Union for Conservation of Nature (IUCN). Populasinya turun lebih dari 50 persen secara global. Karena tingkat reproduksinya lambat, para ahli memperkirakan butuh hingga 100 tahun untuk memulihkan populasi ke kondisi ideal.

Mengapa Hiu Paus di Derawan Penting Dipantau

Perairan Talisayan dan Kepulauan Derawan di Kalimantan Timur bukan sekadar jalur lintas kapal. Kawasan itu menjadi ruang hidup hiu paus sekaligus sumber penghidupan nelayan setempat. Keduanya telah lama berbagi wilayah yang sama.

Kehadiran hiu paus menopang keseimbangan ekosistem laut dan membuka peluang ekonomi lewat wisata berbasis konservasi. Namun, jalur pelayaran yang melintasi perairan itu memunculkan risiko tabrakan yang sulit diprediksi tanpa data pergerakan yang akurat.

Pjs Corporate Secretary PIS, Vega Pita, menyatakan perusahaan mengoptimalkan pelayaran berkelanjutan agar bisnis dan lingkungan bisa berjalan harmonis.

"PIS mengoptimalkan pelayaran berkelanjutan dan menjaga keanekaragaman hayati, terutama ekosistem laut, sehingga bisnis dan lingkungan dapat berjalan secara harmonis dan lestari untuk masa depan," ujar Vega dalam keterangannya, Kamis (10/9).

Data Pergerakan Jadi Alarm Dini bagi Kapal

Pemasangan satellite tag memungkinkan peneliti melacak pola migrasi hiu paus dan mengidentifikasi area dengan potensi interaksi tinggi dengan kapal. Dari situ, langkah mitigasi bisa disiapkan sebelum risiko tabrakan terjadi.

Iqbal Herwata, Focal Species Conservation Senior Manager Konservasi Indonesia, menekankan teknologi sebagai instrumen kunci konservasi berbasis data. Ia terjun langsung dalam program penandaan di perairan Derawan.

"Pemasangan satellite tag dapat memberikan kita informasi pergerakan hiu paus sehingga mitigasi dapat dilakukan sebelum risiko tabrakan dengan kapal menjadi tidak teridentifikasi dan membahayakan bagi hiu paus," ujar Iqbal.

Selain teknologi, PIS memperkuat kapasitas para pelaut yang setiap hari melintasi habitat hiu paus. Pemahaman soal jalur migrasi dan praktik pelayaran aman menjadi bagian dari upaya menekan risiko terhadap megafauna laut tersebut.

Capt. Marsel Williem, pelaut kapal PIS, mengaku informasi keberadaan hiu paus membuat awak kapal lebih waspada saat melintasi daerah rawan.

"Inisiatif PIS dalam menjaga habitat hiu paus ini sangat penting bagi kehidupan megafauna laut yang ancaman hidupnya bisa berasal dari kapal, sehingga kami bisa lebih berhati-hati ketika melewati daerah yang rawan," ujar Marsel.

Kolaborasi Jadi Kunci, Bukan Sekadar Program Seremonial

Pendekatan PIS menunjukkan pelayaran dan konservasi bisa berjalan beriringan. Kombinasi teknologi penandaan satelit, pelatihan pelaut, dan kolaborasi dengan organisasi konservasi menjadi cara menekan risiko tabrakan tanpa mengorbankan keselamatan maupun efektivitas operasional kapal.

Langkah ini dipaparkan dalam Indonesia Sustainability 360 Forum 2026. Bagi PIS, yang bisnisnya bergantung pada laut, menjaga keanekaragaman hayati bukan beban tambahan, melainkan bagian dari keberlanjutan usaha itu sendiri.

Indonesia termasuk habitat penting hiu paus di dunia. Artinya, keberhasilan program penandaan di Derawan berpotensi menjadi rujukan bagi pengelolaan jalur pelayaran lain yang bersinggungan dengan habitat spesies dilindungi.

Follow radarmamuju.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: dunia-energi.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks