MAMUJU — Hari Lingkungan Sedunia yang diperingati setiap 5 Juni tahun ini menjadi momentum bagi pegiat lingkungan untuk menyoroti kondisi memprihatinkan perairan Sulawesi Barat. Provinsi dengan luas lautan (19.848,56 km²) yang lebih besar dari daratannya (16.916,02 km²) ini kini dihimpit ancaman dari dua arah: laut dan darat.
Bom Ihan Lebih Nyaring dari Suara Penyelamatan
Tim penyelam dari Mamuju Ocean Conservation menemukan pemandangan mengenaskan di perairan Pulau Samataha, gugusan Kepulauan Balabalakang, sekitar Juli 2024. Alih-alih menemukan keindahan terumbu karang yang selama ini dipromosikan, mereka justru menjumpai hamparan karang yang hancur, patah, dan mati.
Ironisnya, Kepulauan Balabalakang telah ditetapkan sebagai kawasan konservasi perairan melalui Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 47 Tahun 2022. "Di atas kertas, ia dilindungi. Di dalam laut, ia terluka," tulis Muhammad Syukri, pegiat NGO kelautan Makassar, dalam refleksi yang diterima PELAKITA.ID.
Tiga Kelompok, Tiga Metode, Satu Ekosistem yang Hancur
Hasil survei lapangan tim peneliti Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan (FIKP) Universitas Hasanuddin pada Mei 2022 di Pulau Salissingan, Kepulauan Balabalakang, merekam fakta yang gamblang. Saat tim sedang melakukan penyelaman untuk replantasi terumbu karang, pengeboman justru terjadi berturut-turut di lokasi yang sama.
Penelitian tersebut mengidentifikasi tiga kelompok pelaku dengan metode berbeda. Nelayan dari Kalimantan (Balikpapan) dan Sulawesi Selatan (Pangkep/Makassar) melakukan pengeboman ikan. Nelayan lokal Pulau Balabalakang menggunakan potassium cyanide untuk menangkap ikan kerapu. Sementara itu, trawl ilegal dioperasikan oleh nelayan dari Jawa Timur (Madura) yang beroperasi hampir 24 jam, menangkapi segala jenis ikan termasuk benih.
Fakta Singkat: Pesisir Sulbar yang Terluka
- Luas wilayah laut Sulbar: 19.848,56 km², lebih besar dari daratan yang hanya 16.916,02 km².
- Garis pantai: 663,02 km dengan 69 pulau, 41 di antaranya pulau-pulau kecil.
- Kondisi terumbu karang: Di Pulau Karampuang, 70-80 persen masih baik (Hardiana, 2024), sementara di Balabalakang rusak berat akibat bom ikan.
- Nilai hilirisasi LTJ: Pemerintah pusat menargetkan Rp 124,61 triliun pada 2030 dari cadangan Logam Tanah Jarang di bawah bukit pesisir Mamuju.
Harta Karun Nasional yang Mengancam Laut
Ancaman baru kini datang dari darat. Di bawah bukit-bukit yang mengelilingi garis pantai Mamuju, tersimpan cadangan Logam Tanah Jarang (LTJ) yang oleh pemerintah pusat disebut sebagai "harta karun nasional". BUMN bentukan Danantara sudah duduk di meja rapat membahas penambangan di sana, namun nyaris tidak ada yang menyebut risikonya bagi laut.
Sulawesi Barat berada di posisi strategis secara global. Perairannya merupakan bagian dari ALKI II (Alur Laut Kepulauan Indonesia II), jalur pelayaran internasional yang menghubungkan Samudera Pasifik dan Samudera Hindia. Selat Makassar yang menjadi "wajah" Sulbar adalah salah satu jalur arus lintas Indonesia (arlindo) terpenting di dunia.
Apa Langkah Selanjutnya?
Muhammad Syukri menegaskan bahwa kondisi ini merupakan paradoks paling telanjang yang mewakili kondisi pesisir dan laut Sulawesi Barat hari ini. "Kekayaan itu kini sedang dihimpit dari dua sisi: dari laut oleh ancaman ekologis yang sudah berlangsung lama, dan dari darat oleh ambisi pertambangan yang baru saja akan bergerak serius," tulisnya.
Belum ada pernyataan resmi dari Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat maupun Kementerian Kelautan dan Perikanan terkait temuan ini. Namun, para pegiat lingkungan mendesak agar penegakan hukum terhadap praktik pengeboman ikan segera diperketat, dan kajian dampak lingkungan untuk rencana tambang LTJ dilakukan secara transparan sebelum izin operasional dikeluarkan.