SULAWESI BARAT — Rombongan pimpinan Bulog dan Kementerian Pertanian terbang langsung ke Alor, Sabtu (pekan ini), bukan sekadar seremoni. Mereka memastikan beras bantuan pemerintah benar-benar turun ke tangan warga di desa-desa terpencil, mulai dari Desa Fuisama dengan 66 penerima, Desa Probur 513 penerima, hingga Desa Lembur Barat yang menampung 222 keluarga penerima manfaat.
"Bagi Bulog tidak ada wilayah yang terlalu jauh untuk dilayani. Alor adalah bagian dari Indonesia, dan masyarakatnya memiliki hak yang sama untuk mendapatkan perhatian serta akses pangan," tegas Rizal dalam keterangan resmi yang dikutip di Jakarta.
Setiap Keluarga Terima 30 Kilogram Beras
Skema penyaluran kali ini digabung untuk tiga bulan sekaligus—Juli, Agustus, dan September. Artinya, setiap keluarga penerima bantuan (PBP) akan membawa pulang total 30 kilogram beras dalam satu waktu penyaluran. Kebijakan ini diambil untuk menghemat biaya logistik dan mempercepat distribusi mengingat medan antar-pulau yang berat.
Rizal mendampingi langsung Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) yang juga Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, dalam peninjauan tersebut. Kehadiran dua pejabat tinggi negara di ujung timur Indonesia ini mengirim sinyal kuat: pemerintah tidak mentolerir keterlambatan atau kebocoran bantuan pangan di daerah terluar.
Sinergi Lintas Wilayah Jadi Kunci Distribusi
Kondisi geografis NTT yang berbukit dan tersebar dalam gugusan pulau memang kerap menjadi momok bagi distribusi logistik. Namun Bulog menegaskan tidak ada alasan bagi mereka untuk menunda pengiriman. Sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan Bulog menjadi tulang punggung agar bantuan bisa tiba tepat waktu dan tepat sasaran.
"Hari ini kami datang langsung ke Alor untuk memastikan bantuan pangan pemerintah benar-benar sampai kepada masyarakat. Ini bukan hanya soal menyalurkan beras, tetapi memastikan kehadiran negara dirasakan langsung oleh masyarakat," ujar Rizal.
Amran menambahkan, program bantuan pangan ini merupakan instrumen ganda: menjaga ketahanan pangan nasional sekaligus melindungi daya beli masyarakat berpenghasilan rendah. "Kita ingin memastikan negara hadir bukan hanya melalui kebijakan, tetapi melalui aksi nyata. Tidak boleh ada masyarakat yang merasa jauh dari perhatian pemerintah hanya karena berada di wilayah kepulauan atau pelosok," kata Amran.
Penyaluran perdana di Alor ini menjadi salah satu titik evaluasi penting bagi Bulog. Jika rantai distribusi di wilayah dengan tantangan geografis ekstrem seperti NTT berjalan mulus, maka daerah kepulauan lain di Indonesia Timur diharapkan bisa mengikuti pola yang sama. Pemerintah memastikan alokasi bantuan pangan akan terus berlanjut dan menjangkau lebih banyak desa di sisa tahun ini.