Pencarian

Bung Karno dan Jalan Panjang Menuju Indonesia Merdeka: Dari Surabaya ke Panggung Dunia

Sabtu, 06 Juni 2026 • 17:38:01 WIB
Bung Karno dan Jalan Panjang Menuju Indonesia Merdeka: Dari Surabaya ke Panggung Dunia
Ir. Soekarno menerima gelar insinyur setelah menempuh pendidikan di ITB pada 1926.

SULAWESI BARAT — Ir. Soekarno, yang akrab disapa Bung Karno, wafat di RSPAD Jakarta pada 21 Juni 1970 dan dimakamkan di Blitar, Jawa Timur, dekat makam ibunya. Atas jasa-jasanya, negara menganugerahinya gelar Pahlawan Proklamasi. Namun, kontribusinya terhadap bangsa tidak berhenti pada proklamasi semata.

Dari HBS Surabaya ke ITB: Pendidikan yang Membentuk Negarawan

Melansir Pusat Studi Arsip Statis Kepresidenan, Soekarno menempuh pendidikan di HBS (Hoogere Burger School) Surabaya sebelum melanjutkan ke THS (Technische Hoogeschool) Bandung, yang kini dikenal sebagai ITB. Ia meraih gelar insinyur (Ir.) pada tahun 1926. Masa mudanya banyak dipengaruhi oleh H.O.S. Tjokroaminoto, tokoh pergerakan nasional yang menjadi tempatnya menimba ilmu politik dan organisasi.

PNI, Marhaenisme, dan Pengasingan: Awal Perlawanan Terorganisir

Pada 4 Juli 1927, Soekarno mendirikan Partai Nasional Indonesia (PNI). Melalui gagasan Marhaenisme, ia mengartikulasikan perjuangan kaum kecil melawan penjajahan Belanda. Aktivitas politik ini membuatnya beberapa kali ditangkap dan diasingkan, termasuk ke Sukamiskin, Ende di Flores, dan Bengkulu. Tekanan kolonial tidak menghentikan langkahnya; justru di pengasingan ia terus merumuskan strategi perjuangan.

Pancasila, Proklamasi, dan Kepemimpinan Nasional

Gagasan besar Soekarno tentang dasar negara disampaikan dalam sidang BPUPKI pada 1 Juni 1945, yang kemudian dikenal sebagai hari lahir Pancasila. Bersama Mohammad Hatta, ia memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. Sehari setelahnya, dalam sidang PPKI, Soekarno resmi diangkat sebagai Presiden pertama Republik Indonesia, menandai dimulainya kepemimpinan di negara yang baru merdeka.

Diplomasi Global: Konferensi Asia Afrika dan Gerakan Non Blok

Di panggung internasional, Bung Karno menggagas Konferensi Asia Afrika di Bandung pada 1955. Forum ini menjadi cikal bakal Gerakan Non Blok, memperkuat solidaritas negara-negara berkembang, dan menempatkan Indonesia sebagai pemain kunci dalam diplomasi dunia. Langkah ini menunjukkan bahwa perjuangan kemerdekaan tidak hanya bersifat domestik, tetapi juga melawan kolonialisme secara global.

Setelah melalui perjalanan panjang, Soekarno menghadapi masa sulit pasca-1965 yang berdampak pada kondisi politik nasional. Kesehatannya terus menurun hingga akhir hayatnya. Meski demikian, warisan pemikiran dan perjuangannya tetap menjadi referensi utama bagi bangsa Indonesia dalam menjaga kedaulatan dan identitas nasional.

Bagikan
Sumber: metrotvnews.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks