MAMUJU — DKPPKB Sulawesi Barat mengikuti Pertemuan Monitoring dan Evaluasi Program Tuberkulosis Tahun 2026 yang digelar Kementerian Kesehatan RI di Episode Hotel Gading Serpong, Kabupaten Tangerang. Forum empat hari itu mempertemukan pengelola program TB dari pusat dan daerah, organisasi profesi, mitra pembangunan, serta lintas kementerian dan lembaga.
Agenda utamanya bukan sekadar memaparkan capaian. Setiap daerah diminta menganalisis kendala dan menyusun strategi penyelesaian masalah sebagai dasar perbaikan program, termasuk ketepatan pencatatan, pelaporan, serta perencanaan dan serapan anggaran.
Empat Indikator yang Masih Jauh dari Target
Data SITB per 16 Agustus 2026 memperlihatkan jarak capaian program TB nasional terhadap target. Selain penemuan kasus yang baru 46 persen, inisiasi pengobatan TB sensitif obat (TB SO) mencapai 89 persen dari target 95 persen.
Inisiasi pengobatan TB resistan obat (TB RO) tercatat 79 persen dari target 95 persen. Keberhasilan pengobatan TB SO berada di 79 persen dari target 90 persen.
Yang paling mencolok adalah cakupan terapi pencegahan tuberkulosis (TPT) bagi kontak serumah, yang baru 12,4 persen dari target 80 persen. Angka ini menjadi sorotan karena kontak serumah merupakan kelompok paling rentan tertular.
Skrining TB Bakal Diintegrasikan dengan Cek Kesehatan Gratis
Peserta pertemuan membahas sejumlah pendekatan untuk menutup celah tersebut. Salah satunya penguatan peran pemerintah daerah dan desa dalam penjangkauan kasus.
Forum juga mendorong integrasi skrining TB dengan program Cek Kesehatan Gratis (CKG), pelibatan kader dan komunitas, serta peningkatan skrining dan penanganan TB pada anak. Evaluasi mencakup indikator program di 38 provinsi.
Kontak Erat dan Stigma Jadi Titik Lemah di Sulbar
Kepala DKPPKB Sulawesi Barat dr. Nursyamsi Rahim menyatakan penanggulangan TB tidak hanya bergantung pada penemuan dan pengobatan pasien. Menurut dia, keberhasilan program juga ditentukan kemampuan sistem kesehatan menjangkau orang berisiko dan menelusuri kontak erat.
"DKPPKB Sulbar terus mendorong penguatan program TB melalui peningkatan kualitas pelaksanaan program dan kolaborasi dengan berbagai pihak. Langkah ini sejalan dengan visi Gubernur Sulawesi Barat, Suhardi Duka, yakni 'Sulawesi Barat Maju dan Sejahtera,' melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia dan pelayanan kesehatan bagi masyarakat," kata dr. Nursyamsi di tempat terpisah.
Ia menambahkan, pemantauan pasien hingga tuntas menjalani pengobatan dan perluasan edukasi untuk menekan stigma terhadap TB sama pentingnya dengan penemuan kasus baru.
Jarak ke Target Eliminasi 2030
Pemerintah menargetkan eliminasi tuberkulosis pada 2030. Bagi Sulawesi Barat, hasil forum di Tangerang diharapkan menjadi dasar rencana tindak lanjut yang lebih terukur, terutama pada indikator yang capaiannya paling rendah.
Upaya itu menuntut dukungan lintas sektor, penguatan layanan kesehatan di tingkat puskesmas dan desa, keterlibatan masyarakat, serta pemantauan program yang berkelanjutan. Tanpa perbaikan di sisi penemuan kasus dan pencegahan penularan, jarak menuju target 2030 tetap lebar.