SULAWESI BARAT — Rencana tersebut disampaikan langsung oleh Direktur Utama PHR, Muhammad Arifin, di Bogor pada Rabu (29/7). Arifin merinci, tiga sumur appraisal yang akan dibor tersebut merupakan bagian dari tahap uji lanjutan. Setelah itu, perusahaan akan melanjutkan dengan delapan sumur demonstrasi sebelum akhirnya memutuskan pengembangan penuh.
"Tiga sumur (akhir tahun), tiga sumur, lalu nanti delapan sumur demonstratenya. Baru insya Allah nanti kalau sukses, itu hampir sekitar 400-an sumurnya," ujar Arifin.
Uji Kelayakan untuk Proyek Raksasa
Pengembangan MNK di Blok Rokan menjadi perhatian besar karena merupakan proyek pertama berskala masif di Indonesia. Teknologi yang digunakan tergolong mahal dan belum banyak dikuasai secara komersial di dalam negeri. Oleh karena itu, hasil pengeboran appraisal ini akan menjadi penentu utama apakah Pertamina serius menggarap potensi tersebut secara mandiri.
Hingga saat ini, PHR masih mengkaji opsi pembentukan entitas khusus yang akan fokus mengelola bisnis MNK. Kajian ini mencakup aspek keekonomian, kesiapan teknologi, serta struktur organisasi yang ideal untuk mengakomodasi ekspansi besar-besaran.
SKK Migas sendiri menekankan pentingnya realisasi pemboran tahun ini. Deputi Eksplorasi Pengembangan dan Manajemen Wilayah Kerja SKK Migas, Rikky Rahmat Firdaus, menyatakan penambahan sumur uji diperlukan untuk memperkuat keyakinan investor dan pemangku kepentingan terhadap prospek proyek.
"Minyak non-konvensional tahun ini kami harapkan Pertamina Hulu Rokan menambah 2–3 sumur appraisal untuk meyakinkan kita bahwa sumur-sumur non-konvensional ini memang layak dan ekonomis untuk dikembangkan," kata Rikky dalam acara DETalk yang digelar Dunia Energi pada Februari lalu.
Hasil Awal yang Menjanjikan
Optimisme ini tidak muncul tanpa dasar. Sebelumnya, PHR telah menyelesaikan pemboran dua sumur eksplorasi di struktur Kelok dan Gulamo. Kedua sumur tersebut berhasil menemukan kandungan hidrokarbon yang memberikan indikasi positif terhadap potensi besar cekungan Rokan di lapisan non-konvensional.
Kendati demikian, Rikky mengingatkan bahwa jalan menuju produksi komersial masih panjang. Tantangan teknologi dan operasional dalam menggarap MNK tidak sederhana, membutuhkan perencanaan matang dan investasi berkelanjutan.
Jika seluruh tahapan berjalan sesuai skenario, Blok Rokan berpotensi menjadi pionir pengembangan MNK di Indonesia dengan skala produksi yang signifikan. Keberhasilan proyek ini tidak hanya memperkuat ketahanan energi nasional, tetapi juga membuka peluang pengembangan serupa di wilayah kerja Pertamina lainnya di masa depan.