SULAWESI BARAT — Produsen mobil paling bernilai di dunia itu akhirnya menyerah pada tekanan transparansi iklim. Lewat laporan dampak tahunannya, Tesla secara resmi memasang target net zero pada 2040 — sebuah langkah yang sebelumnya selalu mereka hindari. Padahal, perusahaan pimpinan Elon Musk ini sudah lama mengkritik aksi iklim korporasi dan bahkan menyebut konsep ESG sebagai "Iblis Reinkarnasi."
Lonjakan Emisi Internal yang Kontradiktif
Ironisnya, di balik komitmen ambisius itu, emisi internal Tesla justru membengkak. Emisi Scope 1 — yang berasal dari operasional langsung — melonjak 43 persen sejak 2023. Lebih parah lagi, emisi Scope 2 yang terkait konsumsi listrik naik 80 persen. Emisi Scope 3, yang mencakup rantai pasok dan bahan baku, juga naik 14 persen menjadi 56 juta metrik ton karbon.
Angka-angka itu jadi catatan besar. Sebab, Tesla baru mulai melaporkan emisi Scope 3 pada 2022 dan masih enggan membagikan datanya ke CDP, platform keterbukaan data iklim global. Padahal, Scope 3 merupakan penyumbang emisi terbesar perusahaan.
Manfaat Produk vs Emisi Internal: Siapa Menang?
Tesla selalu berargumen bahwa dampak lingkungan positif mereka terletak pada produk, bukan pada operasional pabrik. Perusahaan memperkirakan setiap unit mobilnya mencegah sekitar 32 ton emisi karbon selama masa pakai. Pada 2025, seluruh produk Tesla diperkirakan mencegah hampir 37 juta ton emisi karbon — jumlah yang melebihi separuh total emisi tahunan perusahaan.
Argumen ini cukup kuat. Dalam penilaian International Council on Clean Transportation 2025, Tesla menduduki peringkat teratas di antara produsen mobil global. Penilaian itu memperhitungkan manfaat produk sekaligus emisi yang dihasilkan.
Standar Baru, Tapi Target Jangka Pendek Masih Kabur
Komitmen baru ini juga mencakup penyesuaian pelaporan dengan standar internasional IFRS. Langkah itu penting karena selama ini Tesla kerap menolak kerangka penetapan target yang dianggap lebih menguntungkan pencemar lingkungan lama. Namun, perusahaan belum memberikan rincian lengkap soal cara mencapai net zero, juga belum menetapkan target jangka pendek — sesuatu yang oleh banyak ahli dianggap krusial dalam strategi dekarbonisasi.
Tanpa target antara, komitmen 2040 bisa dianggap sekadar janji jangka panjang tanpa peta jalan yang jelas. Apalagi, emisi Tesla terus naik di saat mereka baru saja mulai serius membahas pengurangan emisi internal dalam beberapa tahun terakhir.
Dengan target ini, Tesla bergabung dengan jajaran pabrikan global yang sudah lebih dulu memasang target net zero. Bedanya, Tesla masih punya banyak pekerjaan rumah untuk membuktikan bahwa komitmen itu bukan sekadar strategi pemasaran hijau.