SULAWESI BARAT — Keputusan ini bukan tanpa alasan. Amerika Utara merupakan pasar terbesar dan paling menguntungkan bagi Honda, menyumbang sekitar 40 persen penjualan global perusahaan pada 2025. "Saya ingin meningkatkan penjualan di Amerika Utara secara signifikan. Ide dasarnya adalah memproduksi di tempat yang ada permintaannya," ujar Mibe.
Saat ini, Honda sudah memiliki jejak produksi yang kuat di kawasan tersebut. Dua pabrik di Ohio—East Liberty dan Marysville—merakit model-model terlaris seperti CR-V dan Accord. Satu pabrik lagi di Greensburg, Indiana, memasok CR-V tambahan dan Civic. Sementara itu, Odyssey dan Pilot diproduksi di Lincoln, Alabama. Honda juga memiliki pabrik perakitan di Meksiko dan Kanada.
Kapasitas Terpakai 90 Persen, Buffer Produksi Menipis
Menurut data GlobalData yang dikutip Automotive News, pabrik Honda di AS beroperasi pada 85 persen dari total kapasitas 1,2 juta unit. Jika seluruh pabrik di Amerika Utara dihitung, tingkat utilisasi naik menjadi 90 persen dari kapasitas maksimal 1,8 juta kendaraan. Angka ini nyaris tanpa ruang gerak.
"Pabrik yang ada saat ini hampir dalam produksi penuh. Jika tidak memiliki buffer, Anda tidak bisa memulihkan produksi saat terjadi gangguan," jelas Mibe. Kondisi ini membuat Honda rentan terhadap gangguan rantai pasok yang kerap melanda industri otomotif global dalam beberapa tahun terakhir.
Lokasi dan Waktu Operasional Masih Dikaji
Honda belum mengungkapkan di mana pabrik baru itu akan dibangun dan kapan mulai beroperasi. Rencana ini masih dalam tahap awal. Perusahaan juga belum memberikan konfirmasi resmi soal pernyataan Mibe ketika dihubungi awak media.
Meski begitu, pembangunan pabrik baru diperkirakan memakan waktu bertahun-tahun, bahkan bisa mencapai satu dekade. Jika terealisasi, fasilitas ini akan menjadi kunci bagi Honda untuk mengejar pangsa pasar yang lebih besar di AS yang sangat kompetitif.
Kehadiran pabrik tambahan tidak hanya akan mendongkrak volume penjualan, tetapi juga memberi Honda fleksibilitas lebih dalam menghadapi fluktuasi permintaan dan gangguan produksi. Ini menjadi langkah strategis di tengah persaingan ketat dengan pabrikan Jepang dan Amerika lainnya di segmen kendaraan roda empat.