SULAWESI BARAT — Direktur Utama BRI, Hery Gunardi, menyambut baik keputusan Kementerian Keuangan tersebut. Ia menyebut kebijakan ini sebagai bentuk kepercayaan negara terhadap peran BRI dalam menggerakkan ekonomi kerakyatan.
"Kami menyampaikan apresiasi atas kepercayaan yang diberikan pemerintah kepada BRI melalui penempatan dana SAL. Kebijakan ini menjadi langkah positif untuk memperkuat likuiditas perbankan sehingga kapasitas intermediasi dalam mendukung pembiayaan sektor-sektor produktif yang menjadi penggerak perekonomian nasional," ujarnya dalam keterangan resmi, Senin, 29 Juni 2026.
Fokus Pembiayaan ke UMKM dan Sektor Riil
Tambahan likuiditas tidak akan digunakan sembarangan. Hery menegaskan, pihaknya tetap berpegang pada prinsip kehati-hatian dan manajemen risiko yang ketat. Penyaluran kredit akan difokuskan secara selektif ke sektor-sektor yang punya efek berganda tinggi.
"Kami akan memastikan setiap penyaluran pembiayaan dilakukan secara terukur agar memberikan dampak nyata bagi perekonomian. Fokus BRI ialah pada sektor-sektor produktif yang mampu menciptakan lapangan kerja, meningkatkan produktivitas, dan memperkuat daya saing ekonomi nasional," jelas Hery.
Hingga Maret 2026, total pembiayaan BRI secara bank only sudah mencapai Rp1.358 triliun. Mayoritas kredit ini tersalur ke segmen UMKM dan sektor riil. Angka itu menunjukkan betapa besarnya peran BRI sebagai penopang utama pembiayaan usaha kecil di Indonesia.
Strategi Pendanaan: Perkuat Dana Murah Lewat Digital
Dari sisi penghimpunan dana, BRI tidak hanya mengandalkan suntikan pemerintah. Perseroan terus memperkuat penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK), khususnya dana murah atau Current Account Saving Account (CASA). Caranya, dengan menggenjot ekosistem digital perusahaan agar nasabah semakin betah menyimpan uang di bank pelat merah ini.
Sebagai informasi, total dana SAL yang ditempatkan ke lima bank Himbara naik dari Rp300 triliun menjadi Rp400 triliun. Selain BRI, bank-bank penerima lainnya adalah Bank Mandiri, Bank Negara Indonesia, Bank Tabungan Negara, dan Bank Syariah Indonesia. Langkah ini diambil pemerintah untuk memastikan sistem perbankan nasional tetap likuid di tengah tekanan global.
Hery optimistis, dengan fundamental yang kuat dan fokus pada UMKM, BRI mampu terus menjadi motor penggerak ekonomi kerakyatan. "Kami optimistis dapat terus berkontribusi sebagai penggerak utama ekonomi kerakyatan sekaligus menciptakan nilai tambah bagi masyarakat dan perekonomian Indonesia," tutupnya.