Pencarian

Kenaikan Harga Pertamax 32 Persen Dinilai Berpotensi Picu PHK dan Kenaikan Harga Pangan

Minggu, 14 Juni 2026 • 04:23:01 WIB
Kenaikan Harga Pertamax 32 Persen Dinilai Berpotensi Picu PHK dan Kenaikan Harga Pangan
Kenaikan harga Pertamax sebesar 32 persen berpotensi meningkatkan biaya transportasi masyarakat Sulawesi Barat.

SULAWESI BARAT — Bhima menyampaikan analisisnya dalam keterangan yang dikutip pada Sabtu (13/06/2026). Kenaikan harga Pertamax dari Rp12.300 per liter menjadi Rp16.250 per liter dinilai bakal memperbesar beban pengeluaran rumah tangga, terutama kelas menengah dan kelompok yang sedang menuju kelas menengah (aspiring middle class). Menurutnya, biaya transportasi harian masyarakat berpotensi meningkat signifikan.

Daya Beli Kelas Menengah Tertekan

Bhima menjelaskan, kenaikan harga BBM ini secara langsung mengurangi kemampuan belanja masyarakat. Sebab, sebagian pendapatan yang seharusnya untuk konsumsi lain harus dialokasikan lebih besar ke kebutuhan transportasi dan energi.

Kondisi ini dinilai berpotensi menekan konsumsi rumah tangga yang selama ini menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi nasional. "Merosotnya daya beli di kelompok menengah dan aspiring middle class (menuju kelas menengah)," ujar Bhima.

Rentan Miskin Bertambah, Harga Pangan Berisiko Naik

Kenaikan biaya transportasi dan distribusi barang disebut Bhima menjadi pemicu utama bertambahnya jumlah penduduk rentan miskin. Kelompok dengan pendapatan terbatas dinilai paling kecil kemampuannya untuk menyerap dampak kenaikan harga BBM.

"Bertambahnya jumlah penduduk rentan miskin," katanya. Selain itu, kenaikan biaya distribusi juga berpotensi mendorong pelaku usaha menaikkan harga jual produk pangan. "Kenaikan harga bahan pangan," ujar Bhima.

Suku Bunga Kredit Berpotensi Naik Lebih Cepat

Bhima juga menyoroti dampak ke sektor keuangan. Tekanan inflasi akibat kenaikan harga BBM berpotensi mempercepat penyesuaian suku bunga kredit oleh perbankan. "Transmisi penyesuaian suku bunga kredit lebih cepat," katanya.

Jika suku bunga naik, biaya pinjaman bagi masyarakat dan pelaku usaha ikut bertambah. Hal ini bisa semakin menekan konsumsi, investasi, dan aktivitas usaha yang sudah terdampak sebelumnya.

PHK Melonjak dan Risiko Gejolak Sosial

Dampak paling serius disebut Bhima adalah di sektor ketenagakerjaan. Kenaikan biaya operasional perusahaan mendorong efisiensi yang berujung pada pemutusan hubungan kerja. "Jumlah PHK melonjak pada kuartal ke-3," ujarnya.

Ia juga mengingatkan, tekanan ekonomi yang berkepanjangan bisa memicu persoalan sosial. "Meningkatnya kriminalitas dan gejolak sosial," katanya. Namun, besarnya dampak sangat bergantung pada kebijakan pemerintah, stabilitas harga BBM, harga kebutuhan pokok, serta langkah mitigasi yang dilakukan untuk menjaga daya beli masyarakat.

Bagikan
Sumber: listrikindonesia.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks