SULAWESI BARAT — SpaceX secara resmi mengajukan permohonan ke Federal Communications Commission (FCC) pada 30 Januari 2026 untuk membangun konstelasi satelit data center orbital. Jumlahnya mencengangkan: hingga 1 juta satelit. Ini bukan sekadar konsep—dokumen regulasi ini menandai langkah konkret pertama menuju infrastruktur komputasi di luar atmosfer.
Dua Masalah Besar AI yang Coba Dipecahkan di Orbit
Bottleneck terbesar pengembangan data center AI di darat saat ini adalah listrik dan pendinginan. Membangun pusat data kapasitas raksasa butuh akses ke gigawatt listrik dan sistem pendingin air masif—dua hal yang sudah berada di titik kritis di banyak wilayah.
Luar angkasa menawarkan solusi ganda. Pertama, energi surya tak terbatas: satelit di orbit tidak pernah mengalami malam, sehingga bisa mengumpulkan tenaga surya terus-menerus tanpa bergantung jaringan listrik darat. Kedua, pendinginan alami: vakum luar angkasa dengan suhu mendekati -270°C memungkinkan panas dibuang secara radiasi langsung—tanpa air, tanpa HVAC, tanpa biaya pendinginan membengkak.
Skala yang Melampaui Semua Konstelasi yang Ada
Angka yang diajukan SpaceX ke FCC sungguh raksasa. Total kapasitas komputasi AI yang ditargetkan mencapai 100 gigawatt—setara 20 persen konsumsi listrik seluruh Amerika Serikat saat ini, dan seluruhnya didedikasikan untuk kecerdasan buatan. Setiap satelit generasi Starlink V3 disebut mampu mentransfer data hingga 1 Tbps, terhubung via jaringan laser mesh ke stasiun bumi.
"Dengan kemampuan Starship untuk mengirimkan muatan tak tertandingi ke orbit untuk komputasi AI, kapasitas pemrosesan kecerdasan di luar angkasa bisa melampaui konsumsi listrik seluruh ekonomi AS—tanpa biaya dan gangguan dari membangun ulang jaringan listrik Bumi yang sudah kelebihan beban," tulis SpaceX dalam pengajuan ke FCC.
Google dan Anthropic Sudah Antre
Minat dari raksasa teknologi sudah mulai terlihat. Google dikabarkan tengah dalam pembicaraan dengan SpaceX untuk menempatkan data center mereka di orbit. Sementara Anthropic, perusahaan AI di balik Claude, telah menandatangani kesepakatan komputasi senilai USD 1,25 miliar per bulan dengan SpaceX, dengan potensi kolaborasi pada infrastruktur orbital ke depan.
Timeline realistis untuk layanan data center orbital komersial pertama diperkirakan 2028–2030. Semua tergantung pada satu hal: keberhasilan Starship mencapai reusabilitas penuh. Tapi pondasinya sedang dibangun sekarang, dan dana IPO adalah bagian dari pembiayaannya.
Merger Tesla-SpaceX: Probabilitas 80-90 Persen
Di luar proyek data center orbital, spekulasi merger antara SpaceX dan Tesla juga menguat. CNBC melaporkan bahwa Elon Musk sudah mendiskusikan kemungkinan ini dengan koleganya. Timing-nya bukan kebetulan: SpaceX baru saja mengajukan S-1, sementara keterlibatan finansial antara kedua perusahaan sudah sangat dalam.
Secara operasional, keduanya sudah "setengah" merger. Tesla menginvestasikan USD 2 miliar di xAI pada Januari 2026—yang kemudian dikonversi menjadi kepemilikan di SpaceX setelah merger xAI–SpaceX pada Februari 2026. SpaceX juga membeli USD 697 juta sistem penyimpanan energi Tesla Megapack untuk menenagai data center xAI, serta USD 131 juta Tesla Cybertruck pada 2025. Kedua perusahaan bahkan bersama-sama membangun riset semiconductor fab di Gigafactory Texas.
Wedbush Securities melalui analis Dan Ives menempatkan probabilitas merger di angka 80-90 persen, dengan target penyelesaian pada H1 2027. Ives menyebut entitas gabungan sebagai "physical AI play" terbesar di dunia. Di platform prediksi Polymarket, probabilitasnya saat ini berada di angka 52 persen.