MAMUJU — Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat tidak lagi membiarkan data stunting tersebar di masing-masing instansi. Memasuki pertengahan tahun ini, DiskominfoSS Sulbar memulai integrasi data dari empat sumber utama sekaligus: SIGA, BKKBN, DTSEN, dan EPPBGM milik Kemenkes. Semua data itu akan disatukan dalam satu dashboard dan aplikasi intervensi khusus.
Kepala DiskominfoSS Sulbar, Muhammad Ridwan Djafar, menegaskan bahwa fragmentasi data selama ini menjadi penghambat utama penurunan angka stunting di Bumi Manakarra. “Integrasi data dari SIGA, BKKBN, hingga Kemenkes ini sangat krusial. Kita tidak bisa lagi berjalan sendiri-sendiri dengan data masing-masing,” ujarnya.
Data Stunting Disatukan, Peta Riil di Lapangan Terlihat
Melalui penyatuan data, pemerintah bisa melihat lokasi persis anak berisiko stunting di enam kabupaten. Dashboard yang disiapkan Kominfo akan menampilkan peta sebaran secara real-time, sehingga intervensi tidak lagi bersifat umum, melainkan spesifik menjawab kebutuhan tiap wilayah.
Ridwan menambahkan, “Melalui satu data yang terintegrasi, kita bisa melihat peta stunting secara riil di lapangan, dan benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat.” Program ini merupakan tindak lanjut langsung dari arahan Gubernur Sulbar, Suhardi Duka.
120 Mitra Media Online Dikeroyok untuk Edukasi Publik
Selain penguatan sistem data, Kominfo Sulbar juga menggencarkan strategi komunikasi masif. Selama lima bulan terakhir, mereka memproduksi infografis dan konten edukasi kreatif yang disebar melalui media sosial dan media massa.
Langkah ini diperkuat oleh jaringan sekitar 120 mitra media online di lingkup Pemprov Sulbar. Lewat kemitraan itu, Diskominfo membangun narasi bersama untuk mengedukasi publik soal penanganan stunting secara serentak di enam kabupaten.
Aplikasi Intervensi Khusus Disiapkan untuk 2026
Program Pastipadu 2026 tidak hanya berhenti pada integrasi data. Kominfo juga menyiapkan aplikasi khusus yang akan digunakan sebagai alat intervensi di lapangan. Aplikasi ini dirancang agar tenaga kesehatan dan kader posyandu bisa mengakses data riil kapan saja.
Dengan lompatan besar ini, Pemprov Sulbar berharap angka stunting bisa ditekan secara signifikan dalam dua tahun ke depan. Integrasi lintas sektoral menjadi kunci agar program tidak tumpang tindih dan anggaran tepat sasaran.