MAMUJU — Sekretaris Daerah Provinsi Sulawesi Barat, Junda Maulana, secara langsung menerima audiensi mahasiswa KKN-PPM UGM Periode II Tahun 2026 di ruang kerjanya, Kantor Gubernur Sulbar, Senin (3/8/2026). Dalam pertemuan yang dihadiri sejumlah kepala organisasi perangkat daerah (OPD) itu, Junda menegaskan bahwa pemerintah justru membutuhkan masukan kritis dari para mahasiswa untuk menyempurnakan program pembangunan.
“Jangan takut dan jangan ragu menyampaikan rekomendasi. Apa yang ditemukan di lapangan silakan diungkapkan. Pemerintah justru membutuhkan masukan seperti itu sebagai bahan evaluasi dan penyempurnaan kebijakan,” ujar Junda mewakili Gubernur Sulbar Suhardi Duka.
Lingkaran Masalah: Kemiskinan, Stunting, dan Pendidikan
Junda mengakui bahwa Desa Sumare dan Desa Tapandullu masih menghadapi tantangan pembangunan yang kompleks meski lokasinya relatif dekat dengan pusat pemerintahan di Kabupaten Mamuju. Ia mengidentifikasi tiga isu utama yang saling berkaitan membentuk lingkaran permasalahan sosial.
“Karena kemiskinan, kualitas kesehatan menjadi rendah. Ketika kesehatan dan kesejahteraan rendah, akses pendidikan juga menjadi terbatas. Tiga persoalan ini saling berkaitan dan harus diselesaikan secara bersama-sama,” katanya.
Selain itu, ditemukan pula persoalan perilaku hidup bersih dan sehat, keterbatasan sanitasi, pengelolaan sampah, hingga rendahnya motivasi warga untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi.
Angka Stunting dan Pernikahan Dini Jadi Pekerjaan Rumah
Tingginya angka stunting di Sulawesi Barat menjadi sorotan khusus dalam pertemuan tersebut. Junda menyebut salah satu penyebab utamanya adalah kemiskinan yang diperparah dengan tingginya angka pernikahan usia dini di daerah itu.
Menurutnya, pernikahan pada usia remaja berisiko terhadap kesehatan ibu maupun anak. Ia mengutip berbagai hasil penelitian yang menunjukkan bahwa perempuan di bawah usia 21 tahun masih membutuhkan asupan gizi tinggi untuk pertumbuhan dirinya sehingga kehamilan pada usia tersebut dapat meningkatkan risiko stunting.
“Karena itu edukasi kepada masyarakat harus terus dilakukan, termasuk mengenai pentingnya menunda pernikahan usia dini dan meningkatkan kualitas kesehatan ibu serta anak,” jelasnya.
Potensi Ikan Melimpah tapi Konsumsi Rumah Tangga Rendah
Junda juga menyoroti paradoks di kawasan pesisir Sumare dan Tapandullu. Potensi perikanan di daerah tersebut sebenarnya melimpah, namun belum sepenuhnya dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan gizi keluarga.
“Ikannya bukan tidak ada. Potensinya besar. Tetapi sebagian besar hasil tangkapan langsung dijual demi memenuhi kebutuhan ekonomi, sementara konsumsi ikan di rumah masih rendah. Perubahan perilaku ini juga perlu menjadi perhatian bersama,” ujarnya.
Ia menambahkan, perkembangan teknologi digital dan penggunaan gawai tanpa pengawasan menjadi tantangan baru yang memengaruhi motivasi belajar generasi muda. Pemprov berharap mahasiswa, khususnya dari bidang ilmu komunikasi, dapat memberikan literasi mengenai penggunaan teknologi secara bijak kepada masyarakat.
Rekomendasi Akan Diteruskan ke Program Pembangunan Daerah
Menutup pertemuan, Junda meminta seluruh mahasiswa menyempurnakan hasil kajian dan rekomendasi yang telah disusun untuk kemudian diserahkan kepada Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat. Ia memastikan berbagai rekomendasi yang dinilai relevan akan menjadi bahan pertimbangan dalam penyusunan program pembangunan daerah.
“Silakan dipertajam lagi rekomendasinya, kemudian serahkan kepada kami. Hal-hal yang perlu ditindaklanjuti akan kami tindak lanjuti sebagai bagian dari upaya bersama membangun Sulawesi Barat yang lebih baik,” tutupnya.