SULAWESI BARAT — Ukraina mengumumkan transformasi drone kamikaze jarak jauh AN-196 Liutyi menjadi platform yang dapat digunakan kembali setelah meluncurkan rudal. Pengumuman ini disampaikan di ajang Farnborough International Airshow oleh Ukroboronprom, konglomerat pertahanan milik negara Ukraina. Varian terbaru Liutyi kini membawa empat rudal kompak di bawah sayap, alih-alih terbang untuk menabrak sasaran dan hancur.
Dari Senjata Sekali Pakai ke Bomber yang Pulang
Drone Liutyi versi standar adalah pesawat nirawak bertenaga baling-baling dengan panduan satelit dan jangkauan operasional hampir 2.000 km per misi. Drone ini membawa hulu ledak seberat 50-75 kg dan mengandalkan navigasi inersia yang dikoreksi sinyal satelit untuk akurasi serangan.
Varian standar telah digunakan Ukraina untuk menyerang kilang minyak sejauh 1.700 km di dalam wilayah Rusia, dekat kawasan Ural. Liutyi juga menyerang pabrik militer Izhevsk di wilayah Udmurtia, Rusia, yang berjarak sekitar 1.400 km dari perbatasan Ukraina.
Rudal Jet Berkecepatan Tinggi
Varian baru Liutyi membawa rudal yang dilaporkan memiliki jangkauan maksimal 200 km dan kecepatan di atas 500 km/jam. Kecepatan ini dicapai berkat mesin jet kecil yang dipasang di badan rudal itu sendiri. Setiap rudal dirancang untuk diluncurkan dari Liutyi, memungkinkan drone kembali ke pangkalan setelah misi.
Belum ada rincian teknis lebih lanjut tentang badan drone maupun rudal yang diungkapkan. Dari segi desain, rudal baru ini disebut mirip dengan Barracuda-250 buatan Anduril, rudal jelajah Amerika Serikat dengan hulu ledak 18 kg dan jangkauan lebih dari 370 km.
Jerman Danai 500 Unit Tambahan
Jerman mengucurkan dana sekitar 100 juta dolar AS untuk membiayai 500 unit drone Liutyi tambahan. Ini menandakan minat berkelanjutan dari negara-negara Barat terhadap program drone Ukraina. Biaya produksi setiap badan Liutyi diperkirakan sekitar 200.000 dolar AS, tergolong murah untuk platform serangan jarak jauh sekelasnya.
Pesaing Baru di Pasar Drone Tempur
Menampilkan Liutyi bersenjata dan dapat digunakan kembali di pameran pertahanan internasional berfungsi sebagai pernyataan komersial. Ukraina telah memamerkan drone angkatan laut, drone pencegat, dan sistem serangan di pameran pertahanan besar sepanjang 2026. Drone yang sudah teruji tempur melalui ratusan serangan jauh ke wilayah Rusia menawarkan rekam jejak langka bagi pembeli asing.
Liutyi kemungkinan akan bersaing dengan drone FP-1 buatan Ukraina sendiri, yang diklaim menawarkan performa sebanding dengan biaya lebih rendah. Varian baru ini juga berpotensi mengisi celah yang ditinggalkan Bayraktar TB2, drone yang menjadi simbol perlawanan awal Ukraina sebelum pertahanan udara Rusia memaksanya mundur dari medan tempur.
Belum diketahui apakah rudal dan badan drone baru ini akan bertahan dalam kondisi pertempuran sesungguhnya. Uji coba lebih lanjut diperlukan untuk memvalidasi klaim teknis yang diumumkan Ukroboronprom.