MAMUJU — Pergerakan Bitcoin sepekan terakhir menyita perhatian investor kripto di Mamuju. Setelah menembus level tertinggi lima minggu, harga terkoreksi seiring lonjakan minyak mentah WTI di atas US$85 per barel dan Brent mendekati US$90 per barel. Kondisi ini kembali memicu kekhawatiran terhadap tekanan inflasi global dan arah suku bunga The Fed.
Penyebab Koreksi: Lonjakan Harga Minyak dan Geopolitik
Riset FLOQ menunjukkan eskalasi konflik AS-Iran sebagai faktor utama kenaikan harga minyak. Yudhono Rawis menyebut harga minyak kini menjadi indikator utama pergerakan Bitcoin jangka pendek. "Selama tekanan energi dan risiko geopolitik masih berlangsung, volatilitas pasar kripto berpotensi tetap tinggi," ujarnya dalam keterangan tertulis, Minggu (26/7).
Ia memperingatkan, jika kenaikan harga energi berlanjut dan memicu kekhawatiran inflasi, ekspektasi suku bunga The Fed bisa berubah. Dampaknya langsung terasa pada aset berisiko seperti Bitcoin.
Level yang Harus Dicermati Investor
FLOQ mencatat level US$66.500 menjadi resistance jangka pendek Bitcoin setelah dua kali gagal ditembus bulan ini. Adapun area US$64.000 menjadi support kunci. Jika harga turun di bawah level tersebut, koreksi lebih dalam berpotensi terjadi.
"Koreksi setelah menyentuh level tertinggi lima minggu adalah hal yang wajar. Pasar membutuhkan konfirmasi lebih kuat, baik dari stabilisasi makro, meredanya risiko energi, maupun keberlanjutan inflow institusional," kata Yudhono.
ETF dan Regulasi Beri Sinyal, Tapi Belum Jadi Tren
Di tengah tekanan makro, arus dana ETF Bitcoin spot mencatat inflow lima hari berturut-turut hingga 21 Juli — rangkaian pertama sejak April. ETF Ethereum juga mencatat inflow bersih pada pekan 13–17 Juli setelah delapan minggu outflow.
Namun, Yudhono mengingatkan outflow year-to-date masih sekitar US$5,2 miliar. "Inflow pekan ini lebih tepat dilihat sebagai pemulihan parsial, bukan pembalikan tren besar," jelasnya.
Dari sisi regulasi, perkembangan CLARITY Act di Amerika Serikat menjadi sorotan. Peluang floor vote meningkat setelah hambatan bahasa etika selesai, tetapi peluang pengesahan masih perlu dikawal realistis.
Kondisi Domestik Relatif Stabil, Tetap Waspada Eksternal
Bank Indonesia mempertahankan BI Rate di 5,75% pada RDG 21–22 Juli. Rupiah menguat tipis ke Rp17.909–Rp17.917 per dolar AS, sementara IHSG naik ke 6.374. Meski domestik membaik, Yudhono menilai investor tetap harus mencermati tekanan eksternal yang dapat mempengaruhi aset berisiko, termasuk kripto.
Pertemuan FOMC pada 28–29 Juli juga menjadi sorotan. Pasar memperkirakan The Fed akan menahan suku bunga, namun peluang kenaikan suku bunga September meningkat seiring lonjakan harga minyak.
Volatilitas Tinggi, Investor Diminta Hati-Hati
Yudhono menekankan arah Bitcoin pekan ini dipengaruhi kombinasi faktor global: pergerakan harga minyak, perkembangan geopolitik, ekspektasi suku bunga The Fed, dan keberlanjutan inflow ETF. "Dalam kondisi pasar yang masih dinamis, investor perlu memahami bahwa pergerakan harga tidak hanya ditentukan oleh satu variabel," pungkasnya.