Pencarian

Peringati Harkitnas ke-118, Gubernur Sulbar Sebut Indonesia Mampu Produksi Pesawat dan Kapal Perang Sendiri

Rabu, 20 Mei 2026 • 18:08:01 WIB
Peringati Harkitnas ke-118, Gubernur Sulbar Sebut Indonesia Mampu Produksi Pesawat dan Kapal Perang Sendiri
Gubernur Sulbar Suhardi Duka memimpin upacara peringatan Harkitnas ke-118 di Mamuju, Rabu (20/5/2026).

MAMUJU — Peringatan Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) ke-118 di Sulawesi Barat berlangsung khidmat di lingkungan Pemprov Sulbar, Rabu (20/5/2026). Gubernur Suhardi Duka bertindak sebagai inspektur upacara dan menyampaikan pidato yang menekankan pentingnya rasa bangga terhadap capaian bangsa.

Dalam sambutannya, Suhardi membandingkan posisi Indonesia dengan negara-negara ASEAN. Ia menyebut Indonesia sudah mampu memproduksi pesawat terbang, kapal, hingga kapal perang secara mandiri.

“Di ASEAN saya kira kita lebih maju. Kita bisa bikin pesawat terbang, kapal, bahkan kapal perang. Kita juga bisa membuat senjata dan lain sebagainya. Banggalah kita sebagai bangsa Indonesia yang besar ini,” ujar Suhardi.

Bahasa Indonesia sebagai Perekat Bangsa

Selain sektor pertahanan, Gubernur juga menyinggung kekuatan identitas nasional yang menyatukan ragam suku dan budaya. Menurutnya, Bahasa Indonesia menjadi fondasi utama persatuan yang tidak dimiliki negara lain di kawasan.

“Kalau kita bahasa resminya hanya Indonesia. Paling dipadukan dengan bahasa daerah. Itu yang membuat persatuan kita kuat,” kata Suhardi.

Ia membandingkan dengan negara tetangga yang masih memiliki pemisahan identitas berdasarkan etnis dan bahasa dalam sistem pendidikan. Kondisi itu, kata dia, justru membuat Indonesia lebih solid sebagai bangsa.

Refleksi Sejarah dan Kritik Budaya Negatif

Harkitnas diperingati setiap 20 Mei untuk mengenang berdirinya Budi Utomo pada 1908. Suhardi menyebut peristiwa itu sebagai awal tumbuhnya kesadaran rakyat Indonesia untuk bersatu melawan penjajahan.

“Indonesia dijajah karena raja-raja berkelahi sendiri. Tahun 1908 mulai muncul kesadaran bahwa kita dijajah dan dihadapkan satu sama lain. Dari situlah muncul gagasan untuk hidup bersama-sama,” tuturnya.

Semangat itu, lanjut Suhardi, kemudian mendorong lahirnya Sumpah Pemuda 1928 hingga Proklamasi Kemerdekaan 1945. Namun, ia juga mengingatkan perlunya memperbaiki budaya negatif yang masih mengakar.

Gubernur menyoroti praktik gratifikasi dan sogok-menyogok yang disebutnya sudah tumbuh sejak masa kerajaan melalui sistem upeti. Menurutnya, semangat kebangkitan juga harus diisi dengan koreksi terhadap kebiasaan yang menghambat kemajuan bangsa.

Peringatan Harkitnas ke-118 di Mamuju menjadi momentum refleksi untuk memperkuat nasionalisme dan komitmen membangun Indonesia yang lebih maju. (Rls)

Bagikan
Sumber: telegraph.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks