Pencarian

Anjungan Sulbar TMII Jadi Ruang Ekspresi Budaya Pelajar SMAN 5 Bekasi

Senin, 04 Mei 2026 • 12:24:58 WIB
Anjungan Sulbar TMII Jadi Ruang Ekspresi Budaya Pelajar SMAN 5 Bekasi
Pelajar SMAN 5 Bekasi mengamati arsitektur Rumah Boyang di Anjungan Sulawesi Barat TMII.

JAKARTA — Anjungan Provinsi Sulawesi Barat di kawasan Taman Mini Indonesia Indah (TMII) terus memperkuat fungsinya sebagai etalase budaya sekaligus ruang pelayanan publik. Pada Sabtu (2/5/2026), puluhan pelajar dari SMAN 5 Bekasi mendatangi lokasi tersebut untuk melakukan observasi budaya dan sejarah.

Kunjungan ini bertepatan dengan peringatan Hari Pendidikan Nasional. Para siswa memilih Rumah Boyang, rumah adat tradisional Sulawesi Barat, sebagai pusat kegiatan dokumentasi proyek sekolah. Arsitektur bangunan yang khas dinilai mampu merepresentasikan nuansa historis masa perjuangan kemerdekaan.

Proyek Sejarah Gemuruh di Ujung Fajar di Rumah Boyang

Dalam kegiatan tersebut, para pelajar memanfaatkan suasana otentik Anjungan Sulbar untuk mendukung proyek tugas sekolah bertajuk “Gemuruh di Ujung Fajar”. Karya ini menggambarkan perjalanan heroik para pahlawan dalam merebut kemerdekaan Indonesia dari tangan penjajah.

Para pelajar mengaku antusias mempelajari sejarah pembentukan Daerah Otonomi Provinsi Sulawesi Barat. Mereka juga menggali informasi mengenai upaya penguatan identitas seni yang terjaga di anjungan tersebut. Struktur Rumah Boyang yang ikonik memberikan latar visual yang kuat bagi dokumentasi mereka.

“Kami sangat senang bisa berkunjung ke Anjungan Provinsi Sulawesi Barat. Kami banyak mendapatkan edukasi seni dan budaya yang menyenangkan dengan secara langsung mengenal betapa menariknya kekayaan daerah ini,” ujar salah satu pelajar SMAN 5 Bekasi di lokasi, Sabtu (2/5/2026).

Eksplorasi Destinasi Wisata Unggulan Enam Kabupaten

Selain aspek arsitektur, para siswa aktif berdiskusi mengenai potensi pariwisata melalui tata display yang tersedia. Beberapa destinasi yang menjadi sorotan antara lain Air Terjun Tamasapi, Pulau Karampuang, dan Pantai Manakarra di Mamuju. Ada pula daya tarik Buntu Liarra yang dikenal sebagai "Negeri di Atas Awan" di Mamasa.

Display informasi di anjungan juga memperkenalkan keindahan Pantai Mampie di Polewali Mandar. Pelayanan dari pengelola anjungan memberikan pengalaman belajar yang impresif bagi para siswa. Hal ini membuktikan bahwa anjungan daerah bukan sekadar bangunan fisik, melainkan pusat data pariwisata yang hidup.

“Pengalaman dan pelayanan yang diberikan sangat mengesankan melalui tata display yang disediakan. Terima kasih atas edukasi yang diberikan kepada kami,” tambah pelajar tersebut dalam testimoninya.

Penguatan Promosi Budaya Melalui Program Pancadaya

Kepala Anjungan Provinsi Sulawesi Barat, Nurul Farasmy, menegaskan komitmennya untuk terus mempromosikan seni, budaya, pariwisata, hingga kuliner daerah secara berkelanjutan. Upaya ini merupakan bagian dari strategi pengenalan keberagaman daerah kepada masyarakat luas, khususnya generasi muda di ibu kota.

Langkah promosi ini sejalan dengan program Pancadaya yang diusung Gubernur Sulawesi Barat, Suhardi Duka. Fokus utamanya adalah memperkuat tata kelola pemerintahan yang akuntabel serta mewujudkan pelayanan dasar yang berkualitas bagi publik, termasuk dalam sektor pendidikan budaya.

“Diharapkan kabupaten lainnya, yaitu Mamasa, Pasangkayu, dan Mamuju Tengah turut berpartisipasi agar representasi budaya dari enam kabupaten di Sulawesi Barat semakin lengkap,” ucap Nurul Farasmy.

Saat ini, pengembangan tata display anjungan terus mendapat dukungan dari Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat dan kontribusi aktif dari Kabupaten Polewali Mandar, Majene, serta Mamuju. Kelengkapan representasi dari seluruh kabupaten diharapkan dapat meningkatkan daya tarik kunjungan wisatawan ke Sulawesi Barat di masa depan.

Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks
, LEAD, DAN ISI ARTIKEL
Rekomendasi untuk Anda , LEAD, DAN ISI ARTIKEL