Google sedang menyiapkan chip Tensor G6 untuk seri Pixel 11 dengan peningkatan kecepatan CPU hingga 4,11 GHz guna mengejar ketertinggalan performa. Arsitektur baru ini diprediksi membawa lompatan tenaga signifikan dibanding generasi sebelumnya meski sektor grafis masih menjadi catatan bagi para gamer.
Bocoran spesifikasi chipset Tensor G6 mengungkap ambisi Google untuk membawa seri Pixel 11 ke level performa yang lebih kompetitif. Chipset generasi terbaru ini dijadwalkan hadir dengan arsitektur CPU yang melompati satu generasi teknologi Arm demi menyaingi dominasi MediaTek dan Qualcomm di pasar ponsel flagship.
Lompatan Performa CPU hingga 40 Persen
Google dilaporkan akan menggunakan konfigurasi CPU yang sangat bertenaga pada Tensor G6. Jantung pacunya mengandalkan satu core utama Arm C1-Ultra dengan clock speed mencapai 4,11 GHz. Sebagai pendukung, terdapat empat core C1-Pro di kecepatan 3.38 GHz dan dua core C1-Pro tambahan pada 2.65 GHz.
Langkah ini tergolong agresif karena Google memilih melewatkan era Arm Cortex X925 dan langsung mengadopsi kohort CPU yang setara dengan MediaTek Dimensity 9500. Jika dibandingkan dengan Tensor G5 yang masih menggunakan Cortex-X4, peningkatan performa single-core pada pengujian Geekbench 6 diprediksi mencapai 40 persen.
Kecepatan clock yang lebih tinggi ini juga mengisyaratkan performa multi-core yang lebih solid. Pengguna Pixel 11 kemungkinan besar akan merasakan pengalaman navigasi antarmuka dan pemrosesan data yang jauh lebih responsif dibandingkan seri Pixel terdahulu.
Posisi Tensor G6 di Tengah Persaingan Flagship
Meski membawa peningkatan drastis, strategi Google tetap terlihat konservatif jika disandingkan dengan chipset kelas atas lainnya. MediaTek Dimensity terbaru, misalnya, menggunakan satu core C1-Ultra yang dipadukan dengan tiga core C1-Premium yang secara fisik lebih besar dan kuat dibandingkan core "Pro" milik Google.
Di sisi lain, Qualcomm tetap unggul dengan dua core custom Oryon pada chipset Snapdragon mereka yang dirancang untuk beban kerja berat. Tensor G6 diprediksi akan memiliki performa yang lebih identik dengan Samsung Exynos 2600 yang digunakan pada Galaxy S26, mengingat keduanya berbagi konfigurasi C1-Ultra dan C1-Pro yang serupa.
Bagi pengguna harian, Tensor G6 akan menjadi mesin yang sangat mumpuni untuk menjalankan berbagai aplikasi berat secara simultan. Namun, bagi pengguna yang mengejar skor benchmark tertinggi, chipset ini mungkin belum mampu melampaui dominasi mutlak Qualcomm di puncak klasemen.
Efisiensi Grafis Jadi Fokus Utama
Sektor grafis (GPU) tampaknya masih menjadi area di mana Google melakukan banyak kompromi. Tensor G6 dilaporkan beralih menggunakan unit pengolah grafis PowerVR CXTP-48-1536. Kode "P" pada model ini merujuk pada peningkatan efisiensi daya, bukan sekadar peningkatan kekuatan mentah.
Teknologi grafis baru ini diklaim mampu memberikan peningkatan 20 persen pada rasio FPS-per-Watt. Artinya, Pixel 11 mungkin tidak akan memberikan lonjakan frame rate yang drastis saat bermain game berat, namun perangkat akan tetap dingin dan baterai lebih awet selama sesi permainan panjang.
Keputusan Google beralih ke seri-C dari Imagination Technologies ini diduga kuat untuk menghemat anggaran area silikon pada chip. Meskipun tetap mendukung fitur ray tracing (teknologi simulasi cahaya nyata), keterbatasan jumlah core grafis menunjukkan bahwa Pixel 11 lebih dioptimalkan untuk produktivitas dan efisiensi energi daripada menjadi konsol game genggam.
Dengan penggunaan fabrikasi 2nm yang lebih canggih, Tensor G6 diharapkan mampu menyeimbangkan antara performa CPU yang kencang dengan manajemen suhu yang lebih baik, memperbaiki masalah overheating yang sering dikeluhkan pengguna Pixel generasi awal.