POLMAN — Kepala Dispoparekraf Sulbar Bau Akram Dai menyatakan pengukuran dampak menjadi syarat agar penyelenggaraan event tidak berhenti pada hitungan kasar. Provinsi Sulbar menggelar sekitar 12 event pariwisata tiap tahun, dan setiap kegiatan dinilai perlu punya parameter keberhasilan yang jelas.
Pelatihan berlangsung tiga hari, 29–31 Oktober 2026, di Kabupaten Polewali Mandar. Peserta berasal dari perwakilan dinas pariwisata kabupaten se-Sulbar serta pelaku event.
Bau Akram menilai keberhasilan kegiatan selama ini terlalu sering dinilai berdasarkan perkiraan. Menurut dia, dampak event terhadap usaha lokal dan ekonomi kreatif harus bisa dipertanggungjawabkan lewat angka.
"Setiap kegiatan yang digelar harus memiliki indikator dan parameter keberhasilan. Kita tidak boleh hanya mengira-ngira berapa dampak atau hasil dari kegiatan tersebut. Melalui pelatihan ini, kita diajarkan bagaimana menganalisis data dan mengukur dampak event," kata Bau Akram.
Ia mencontohkan Sandeq Silumba 2026 sebagai event berpotensi besar menggerakkan ekonomi warga. Kehadiran peserta dan pengunjung di tiga titik persinggahan membuka peluang usaha bagi UMKM dan sektor jasa.
Kepala Bidang Industri, Investasi, dan Pemasaran Pariwisata Dispoparekraf Sulbar Abdi Yansya Hijrah menyebut pelatihan ini diadaptasi dari sosialisasi yang sebelumnya dijalankan Kementerian Pariwisata. Tujuannya agar penyelenggara punya instrumen untuk evaluasi dan pengambilan keputusan.
"Selama ini, pengukuran event pariwisata masih berdasarkan perkiraan, seperti kurang lebih atau sekitar. Belum ada ukuran presisi yang benar-benar menjadi instrumen pengambilan keputusan," ujarnya.
Abdi menilai cara pandang terhadap event pariwisata perlu diperkuat. Sulbar belum menjadi destinasi utama kunjungan wisata reguler, sehingga event berbasis komunitas menjadi pintu masuk mendatangkan wisatawan dari luar daerah.
"Pilihan kita adalah event. Orang bisa datang ke Sulbar karena ada event berbasis komunitas. Karena itu, dampaknya harus diukur agar menjadi multiplier effect bagi penyelenggaraan event selanjutnya," katanya.
Dispoparekraf Sulbar berharap pemerintah daerah dan pelaku event mampu merancang kegiatan berbasis data serta mengevaluasi manfaatnya secara terukur. Hasil evaluasi itu akan dipakai sebagai dasar perbaikan penyelenggaraan event berikutnya.
Pelatihan melibatkan narasumber dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) serta Kementerian Pariwisata. Peserta dibekali pemahaman analisis data dan metode pengukuran dampak event pariwisata.