SULAWESI BARAT — BlackBerry mengumumkan royalty backlog QNX melampaui US$1,2 miliar pada 20 Oktober 2026, naik lebih dari US$250 juta dalam dua kuartal terakhir. Sistem operasi yang sudah tertanam di lebih dari 275 juta kendaraan itu kini diarahkan ke robot berbasis physical AI dan otomasi industri. Langkah tersebut menandai pergeseran bisnis perusahaan Kanada tersebut dari pasar smartphone ke infrastruktur perangkat.
Royalty backlog QNX tercatat tumbuh lebih dari 26% dibandingkan sekitar US$950 juta pada akhir tahun fiskal 2026. Angka itu bukan pendapatan yang sudah masuk ke kas BlackBerry, melainkan estimasi royalti masa depan dari program pelanggan yang telah menandatangani kesepakatan.
Perhitungan dilakukan berdasarkan perkiraan volume produksi dan tarif royalti QNX. Pendapatan baru diakui ketika program pelanggan mulai diproduksi dan volumenya meningkat.
CEO BlackBerry John Giamatteo menilai robot yang ditenagai kecerdasan buatan sebagai peluang pertumbuhan perusahaan. BlackBerry tidak berniat memproduksi robot sendiri. Celah yang digarap adalah menyediakan sistem operasi yang membuat mesin fisik bisa beroperasi aman dan andal.
Perbedaan mendasar ada pada karakter physical AI. Jika AI generatif menghasilkan teks, video, dan gambar, physical AI menuntut mesin berinteraksi langsung dengan dunia nyata. Robot di gudang harus bergerak, membawa barang, dan menghindari hambatan. Forklift otonom perlu bekerja aman di lingkungan padat.
Kebutuhan itulah yang membuat sistem operasi berperan besar. Mesin harus menjalankan perintah dengan tepat, bukan sekadar menghasilkan jawaban di layar.
QNX sudah lama dipakai di industri otomotif. Teknologinya menangani berbagai fungsi kendaraan, termasuk sistem pengereman dan sejumlah fitur berkendara semi-otonom. Lebih dari 275 juta kendaraan di seluruh dunia memakai sistem operasi tersebut.
Rekam jejak di sektor otomotif menjadi bekal BlackBerry memperluas penggunaan teknologi ke robotik dan otomasi industri. QNX juga dipakai di sistem tertanam yang menuntut keamanan dan keandalan tinggi, seperti perangkat medis.
Giamatteo menggambarkan posisi produk perusahaan saat ini dengan lugas. "Produk yang kami jual saat ini tidak bisa digenggam tangan kalian, tetapi ternyata ada banyak di sekitar Anda," kata dia kepada CNBC.
BlackBerry menyebut beberapa pemicu pertumbuhan backlog. Pertama, penggunaan sistem komputasi yang lebih canggih di mobil. Kedua, penawaran software yang semakin luas. Ketiga, munculnya peluang baru dari physical AI.
Sektor otomotif tetap menjadi bisnis inti QNX meski robotik masuk dalam daftar fokus pertumbuhan. Kombinasi keduanya membuat profil bisnis BlackBerry berbeda jauh dibanding era kejayaannya di pasar ponsel dengan keyboard fisik.
Bagi pelaku industri robotik dan otomasi di Indonesia, perkembangan ini menambah pilihan penyedia sistem operasi untuk perangkat fisik. Persaingan di lapisan perangkat lunak tertanam diprediksi ikut memanas seiring makin banyak mesin yang mengadopsi AI.