SULAWESI BARAT — Dari total laba bersih yang dibukukan PTBA tahun lalu, sebanyak Rp1,61 triliun atau 55 persen sisanya ditetapkan sebagai saldo laba ditahan. Corporate Secretary PTBA, Eko Prayitno, menjelaskan bahwa dana tersebut akan digunakan untuk mendukung pengembangan usaha dan menjaga keberlanjutan bisnis perseroan.
"Seluruh keputusan yang dihasilkan dalam RUPST mencerminkan komitmen Perseroan untuk menjaga keseimbangan antara pemberian nilai tambah kepada pemegang saham, penguatan struktur permodalan, dan keberlanjutan pengembangan usaha," ujar Eko dalam keterangan resmi yang dikutip Senin (15/6).
Sepanjang tahun 2025, PTBA membukukan pendapatan sebesar Rp42,65 triliun. Kinerja ini ditopang oleh penjualan domestik yang porsinya mencapai 54 persen, sementara ekspor menyumbang 46 persen. Lima negara tujuan ekspor terbesar perusahaan adalah Bangladesh, India, Vietnam, Korea Selatan, dan Filipina.
Dari sisi neraca, total aset perseroan pada 31 Desember 2025 tercatat Rp43,92 triliun. Angka ini naik 5 persen dibandingkan posisi akhir 2024 yang sebesar Rp41,79 triliun. Kenaikan terutama didorong oleh pertumbuhan aset tidak lancar yang melonjak 12 persen atau sekitar Rp3,12 triliun.
Eko menambahkan, di tengah fluktuasi harga batu bara dan ketatnya regulasi energi, PTBA terus menggenjot efisiensi operasional. Perusahaan juga memperkuat hilirisasi batu bara serta mengembangkan inisiatif bisnis yang mendukung pertumbuhan berkelanjutan.
"Kami berupaya menjaga kinerja operasional yang optimal, meningkatkan efisiensi, memperkuat hilirisasi batu bara, serta mengembangkan berbagai inisiatif bisnis yang mendukung pertumbuhan berkelanjutan dan penciptaan nilai jangka panjang bagi seluruh pemangku kepentingan," jelasnya.
Keputusan membagi dividen di tengah tekanan industri menunjukkan optimisme manajemen terhadap prospek keuangan perusahaan ke depan. Dengan laba ditahan yang masih besar, PTBA memiliki bantalan modal untuk ekspansi dan menghadapi ketidakpastian pasar global.