Tim di balik AI Octopus yang sukses memprediksi Euro 2024 merilis versi terbaru simulator mereka untuk Piala Dunia 2026. Bedanya, kini pengguna tidak perlu lagi bergelut dengan slider atau menu rumit. Cukup tulis pertanyaan dalam bahasa alami, dan mesin prediksi akan menjawab dalam hitungan detik.
Dulu, untuk mengubah parameter simulasi, pengguna harus memahami struktur data atau menunggu lima menit proses komputasi. Kini, Haroen Vermylen, CTO dan salah satu pendiri Luzmo, mengatakan sistem bisa menghasilkan prediksi dalam dua hingga tiga detik setelah skenario dimasukkan.
Perubahan kecepatan ini dimungkinkan karena tim migrasi bahasa pemrograman dari TypeScript ke Rust. "Kami pindah ke Rust agar semuanya berjalan lebih cepat, karena sekarang ada komponen real-time," jelas Vermylen kepada The Register.
Model ini dirancang untuk menerima berbagai jenis pertanyaan. "Pertanyaan masuk akal bisa diproses — kartu merah, cedera kunci, gelombang panas, tim pindah base camp — tapi pertanyaan konyol juga bisa," kata Vermylen. Contohnya: "Bagaimana jika turnamen dimainkan dengan aturan rugbi?"
Tim The Register sendiri menguji batas sistem dengan skenario "ganti tim Inggris dengan penulis The Register." Hasilnya? "Skenario itu tidak berakhir baik," tulis mereka singkat.
Simulator menggabungkan data mentah seperti kualitas skuad berdasarkan informasi pemain, faktor panas dan ketinggian, hingga data cedera. Semua ini dimasukkan ke dalam simulasi Monte Carlo yang menjalankan 5.000 pertandingan virtual untuk menghasilkan probabilitas menang, kalah, atau seri.
Di atas mesin perhitungan itu, model OpenAI bertugas menerjemahkan permintaan pengguna dan menghasilkan ringkasan. Sebuah agen AI khusus kemudian membuat atau mengubah skenario, memanggil mesin kalkulasi, dan menjawab pertanyaan.
Meski tampak bebas, sistem tetap punya pagar. Vermylen mengatakan ada filter untuk mengabaikan kata-kata kasar dan "menghindari skenario yang bisa merugikan kelompok tertentu." Selain itu, masalah klasik AI — salah memahami maksud pengguna — masih terjadi. "Kejelasan itu kunci," ujarnya. Menggunakan bahasa alami memang lebih mudah, tapi bisa menimbulkan kesalahpahaman.
Saat artikel ini ditulis, data dasar memprediksi Spanyol akan mengalahkan Inggris di final. Spanyol memiliki 18 persen peluang mengangkat trofi dan 26,8 persen peluang mencapai final. Namun angka-angka itu bisa langsung berubah dengan satu skenario.
Contoh nyata: ketika tim The Register bertanya, "Bagaimana jika tim Spanyol makan paella basi?" peluang Spanyol juara langsung anjlok ke 1,5 persen. Prancis diproyeksikan menjadi juara pengganti.
Vermylen mengakui timnya sudah melirik ajang lain. "Olimpiade akan bagus... atau Eurovision. Kami ingin memberi kemenangan untuk Inggris Raya," katanya. Untuk Piala Dunia 2026, data akan terus diperbarui seiring turnamen berlangsung, membuat prediksi semakin akurat seiring waktu.