SULAWESI BARAT — Pergerakan rupiah pagi ini hampir menyentuh level psikologis Rp17.900 per dolar AS, level yang terakhir kali terlihat pada periode tekanan tinggi terhadap mata uang emerging market. Analis menilai sentimen risk-off masih mendominasi pasar Asia, termasuk Indonesia.
Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan bahwa eskalasi terbaru di Timur Tengah menjadi pemicu utama pelemahan rupiah. "Eskalasi baru di Timur Tengah memicu kekhawatiran terhadap prospek perdamaian dan mendorong lonjakan harga minyak dunia. Kondisi ini berpotensi menekan rupiah terhadap dolar AS," ujar Lukman kepada CNNIndonesia.com.
Kenaikan harga minyak mentah global biasanya menjadi sentimen negatif bagi rupiah. Sebagai negara importir minyak, Indonesia harus mengeluarkan lebih banyak devisa untuk membeli energi, sehingga tekanan terhadap neraca perdagangan dan nilai tukar semakin besar.
Pergerakan mata uang di kawasan Asia pagi ini terpantau bervariasi. Beberapa mata uang justru mampu menguat di tengah tekanan dolar AS global:
Di negara maju, poundsterling Inggris menguat 0,03 persen dan dolar Kanada stabil. Sebaliknya, euro Eropa melemah 0,03 persen, dolar Australia terkoreksi 0,05 persen, dan franc Swiss turun 0,06 persen.
Lukman Leong memperkirakan rupiah akan bergerak dalam rentang Rp17.800 hingga Rp17.900 per dolar AS pada perdagangan hari ini. Level Rp17.900 menjadi resistance terdekat yang harus diwaspadai. Jika tembus, bukan tidak mungkin rupiah menguji level yang lebih tinggi dalam beberapa hari ke depan.
Pelaku pasar disarankan mencermati perkembangan geopolitik di Timur Tengah, terutama setiap pernyataan resmi dari negara-negara produsen minyak utama. Selain itu, data tenaga kerja Amerika Serikat yang akan dirilis akhir pekan ini juga berpotensi mempengaruhi pergerakan dolar AS secara global.
Investasi mengandung risiko.