MAMUJU TENGAH — Ratusan aparatur sipil negara (ASN), personel TNI/Polri, tokoh masyarakat, dan pelajar memadati Lapangan Kantor Bupati Mamuju Tengah pada Senin pagi. Mereka hadir dalam upacara peringatan Hari Lahir Pancasila yang tahun ini mengusung tema “Pancasila Pemersatu Bangsa, Fondasi Perdamaian Dunia”.
Wakil Bupati Mamuju Tengah, Askary Anwar, yang membacakan amanat tertulis dari Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), menekankan bahwa nilai-nilai dasar negara telah terbukti menjadi perekat sosial. “Nilai luhur Pancasila telah terbukti tangguh menjadi perekat dan peredam guncangan di tengah ketidakpastian dunia,” ujarnya di hadapan peserta upacara.
Dalam pidatonya, Askary menyoroti tantangan terbesar yang kini dihadapi bangsa, khususnya generasi muda. Ia meminta para milenial dan Gen Z di Kabupaten Mamuju Tengah untuk menjadikan Pancasila sebagai living ideology yang aktif memandu etika bermedia sosial dan pemanfaatan teknologi ekonomi.
Menurut Askary, momentum 1 Juni harus dimaknai sebagai alarm refleksi nasional agar denyut Pancasila tetap mengalir di tengah lompatan teknologi digital yang disruptif. “Ideologi ini harus menjadi panduan hidup, bukan sekadar pajangan di dinding kantor,” tegasnya.
Upacara yang berlangsung khidmat itu juga menjadi ajang untuk memperkuat kembali tradisi gotong royong. Askary menyebut bahwa soliditas antar-elemen masyarakat di tingkat lokal akan menjadi pilar penopang kekuatan bangsa di level makro.
“Selama semangat Pancasila mengalir dalam darah kita, Indonesia akan tetap tegap dan damai,” ucap Askary menutup pidatonya.
Askary juga menyentil jajaran birokrasi yang hadir. Di hadapan para pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD), ia menitipkan pesan agar setiap kebijakan publik, mulai dari perencanaan anggaran hingga eksekusi pembangunan, wajib bersandar pada nilai-nilai keadilan sosial.
Kabupaten Mamuju Tengah, yang dijuluki Bumi Lalla Tassisara, merupakan potret mini Indonesia dengan keberagaman suku, agama, dan budaya. Di tengah dinamika geopolitik global, Pancasila dinilai menjadi kompas moral agar masyarakat tidak kehilangan jati diri. Askary optimistis, soliditas di tingkat lokal akan menjadi pilar penopang kekuatan bangsa di masa depan.