Pencarian

Refleksi Sumpah Pemuda 2026 di Sulawesi Barat: Dari Ikrar Batavia ke Nafas Malaqbi

Senin, 26 Oktober 2026 • 11:02:01 WIB
Refleksi Sumpah Pemuda 2026 di Sulawesi Barat: Dari Ikrar Batavia ke Nafas Malaqbi
Makdoem Ibrahim merefleksikan Sumpah Pemuda 2026 sebagai momen evaluasi kesetiaan pemuda Sulawesi Barat pada nilai persatuan.

MAMUJU — Makdoem Ibrahim menyoroti peringatan Sumpah Pemuda 28 Oktober 2026 sebagai momen bertanya dengan jujur apakah pemuda Sulawesi Barat masih setia pada jalan persatuan atau justru tercerai-berai oleh zaman. Ia menilai Sumpah Pemuda tidak lahir dari gedung megah, melainkan dari hati yang gelisah melihat bangsanya terjajah. Kegelisahan serupa, menurutnya, seharusnya tumbuh di hati pemuda Mandar, Mamasa, Mamuju, Majene, Pasangkayu, dan Polewali Mandar.

Dalam refleksinya, Makdoem mengingatkan bahwa tantangan hari ini bukan lagi bambu runcing penjajah. Yang dihadapi generasi muda sekarang adalah krisis adab, krisis keteladanan, dan lunturnya jati diri sebagai Manusia Malaqbi.

Jong Celebes dan Benang Sejarah yang Disambung Kembali

Makdoem menegaskan bahwa dalam Sumpah Pemuda 1928 terdapat nama Jong Celebes, yang menurutnya adalah representasi pemuda Sulawesi. Para pemuda dari pulau itu berlayar jauh ke Batavia bukan untuk mencari nama, tetapi untuk menitipkan masa depan.

"Mereka adalah kakek buyut kita yang mengajarkan bahwa menjadi orang Sulawesi tidak pernah bertentangan dengan menjadi orang Indonesia," tulis Makdoem.

Memperingati Sumpah Pemuda di Bumi Malaqbi, lanjutnya, berarti menyambung kembali benang sejarah yang pernah dipintal Jong Celebes. Persatuan yang dibangun hampir seabad lalu itu harus tetap dijaga dengan cara baru.

Tiga Ikrar Sumpah Pemuda dalam Bahasa Malaqbi

Makdoem memaknai ulang tiga ikrar Sumpah Pemuda lewat falsafah hidup orang tua di Sulawesi Barat. Pemaknaan ini menjadi inti refleksinya terhadap kondisi pemuda saat ini.

  • Bertumpah Darah yang Satu, Tanah Air Indonesia dimaknai sebagai Sipakatau, yakni memanusiakan manusia. Tanah air bukan sekadar peta administratif Provinsi ke-33, melainkan tempat belajar memanusiakan sesama. Di era media sosial yang penuh hujatan dan flexing, nilai Sipakatau retak karena orang mudah merendahkan pihak lain akibat beda pilihan politik, suku, dan aliran.
  • Berbangsa yang Satu, Bangsa Indonesia dimaknai sebagai Sipakalebbi, saling memuliakan. Sulawesi Barat disebut sebagai miniatur Indonesia dengan Mandar pelaut, Mamasa Toraja, Bugis dengan etos dagangnya, hingga Jawa transmigran dengan ketekunannya. Politik identitas dan fanatisme golongan dinilai mengancam kebersamaan itu.
  • Menjunjung Bahasa Persatuan, Bahasa Indonesia dimaknai sebagai Sipakainge, saling mengingatkan. Bahasa Indonesia yang dipakai untuk menyebar hoaks dan fitnah dinilai telah mengkhianati fungsinya. Pemuda diminta tetap fasih berbahasa Indonesia tanpa meninggalkan bahasa ibu.

Makdoem mengutip pepatah Pituo, "Malaqbiq na Pau, Malunduq na Sember", yang berarti perkataan baik dan sopan menunjukkan kemuliaan diri. Ia mengingatkan agar pemuda tidak lebih hafal istilah asing di TikTok daripada peribahasa neneknya sendiri.

Kuda Sayyang Pattuduq dan Pa'gellu sebagai Cermin Pemuda

Falsafah Sayyang Pattuduq, kuda penari dari Mandar, dipakai Makdoem untuk menggambarkan pemuda ideal. Kuda itu gagah dan bertenaga, mampu melompat tinggi, tetapi tetap patuh pada penunggangnya dan bergerak mengikuti irama rebana.

Pemuda 2026, katanya, harus energik, inovatif, dan menguasai teknologi AI serta ekonomi digital. Namun energi itu harus tetap punya penunggang, yaitu iman, adab, dan kearifan lokal. Tanpa penunggang tersebut, energi pemuda hanya akan menjadi liar dan merusak.

Dari Mamasa, Tarian Pa'gellu memberi pelajaran lain. Tarian itu tidak bisa ditarikan sendiri karena harus kompak, saling menyambut, dan saling mengisi. Di tengah budaya individualistis dan keinginan viral sendirian, Pa'gellu mengingatkan bahwa kejayaan Sulawesi Barat tidak bisa dibangun satu bupati, satu dinas, atau satu pemuda hebat saja.

Pekerjaan Rumah Menjelang Satu Abad Sumpah Pemuda

Makdoem menutup refleksinya dengan seruan dari Tanah Malaqbi untuk Indonesia. Menjelang satu abad Sumpah Pemuda, ia menilai pekerjaan rumah terbesar adalah menjaga lisan dan jari-jari agar tetap Malaqbi, tetap memuliakan manusia lain.

Perselisihan, menurutnya, semestinya diselesaikan di atas Litaq dengan musyawarah, bukan dengan cacian di kolom komentar. Nilai itu yang diwariskan leluhur dari Pitu Ulunna Salu dan Pitu Ba'bana Binanga.

"Harus Ma'gellu bersama," tulis Makdoem, menegaskan bahwa persatuan Sulawesi Barat hanya bisa diwujudkan lewat gotong royong seluruh elemen, bukan kerja seorang diri.

Follow radarmamuju.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: suaraindonesianews.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks