MAMUJU — Sosok yang lahir di Polewali pada 20 Agustus 1968 itu meninggalkan jejak panjang di dunia pendidikan, keagamaan, dan politik. Kabar berpulangnya Syibli langsung memantik gelombang belasungkawa dari berbagai kalangan di Sulawesi Barat.
"Innalillahi wainna ilaihi rajiun. Insya Allah husnul khatimah, Aamiin Yaa Rabbal Alamin," bunyi salah satu pesan duka yang diterima redaksi.
Jejak Pendidikan dari Pesantren IMMIM hingga Islamabad
Syibli menempuh pendidikan awal di Pondok Pesantren Modern IMMIM Makassar dan MAN 1 Makassar. Ia lalu memperdalam ilmu agama di Banyuwangi, Jawa Timur, sebelum melanjutkan studi ke International Islamic University Islamabad, Pakistan.
Gelar sarjana hingga pascasarjana diraihnya di IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Pendidikan magister diselesaikannya pada 2002.
Pernah Memimpin Unasman dan Dua Periode di DPD RI
Karier akademik Syibli dimulai sebagai Direktur Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Al Asyariah Mandar pada 2004. Setahun berselang, ia dipercaya menjabat rektor universitas tersebut hingga 2009.
Kiprahnya kemudian melesat ke tingkat nasional. Syibli terpilih sebagai anggota DPD RI dari daerah pemilihan Sulawesi Barat untuk dua periode, 2009–2014 dan 2014–2019. Pada Pemilu 2014, ia meraih 51.581 suara.
Selama menjadi senator, ia bertugas di Komite III DPD RI. Posisi itu menjadikannya salah satu tokoh Sulawesi Barat yang membawa aspirasi daerah ke panggung nasional.
Aktif di NU, PKB, hingga Maju Pilkada Polman 2024
Organisasi kemasyarakatan dan kepemudaan juga menjadi ruang pengabdian Syibli. Ia pernah menjabat Sekretaris Jenderal ASEAN Moslem Student Association (AMSA) di Islamabad, Pakistan, pada 1988–1989, pengurus PMII Cabang Ciputat pada 1990, serta pengurus Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor di Jakarta pada 1997.
Di Sulawesi Barat, ia memimpin Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU). Pada 2017, Syibli terpilih secara aklamasi sebagai Ketua Dewan Pengurus Wilayah Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Sulawesi Barat.
Pada Pilkada 2024, ia maju sebagai calon Bupati Polewali Mandar berpasangan dengan Zainal Abidin.
Mursyid Tarekat Qodiriyah dan Penjaga Tradisi Tasawuf
Di luar kiprah akademik dan politik, Syibli dikenal sebagai mursyid tarekat Qodiriyah. Ia kerap menekankan pentingnya tasawuf dalam pembentukan akhlak, etika, dan kepedulian sosial.
Dalam sebuah diskusi publik di Warkop Ngalo, Kelurahan Karema, Mamuju, pada 30 Januari 2018, Syibli menjelaskan bahwa tasawuf dapat menjadi jalan menyucikan jiwa, menjernihkan akhlak, dan membangun pribadi yang lebih baik.
Perhatiannya terhadap pendidikan pesantren juga tercatat. Pada 2020, ia menghadiri peletakan batu pertama pembangunan Pondok Pesantren Isyaratul Mustafa di Kabupaten Majene.
Nama Syibli lekat dengan keluarga besar Annangguru Prof. Dr. KH Sahabuddin, ulama tasawuf yang memimpin tarekat Qodiriyah di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat. Dalam peringatan haul ke-10 KH Sahabuddin pada 8 Maret 2015, ia tampil sebagai pembicara mewakili keluarga.
Ia juga tercatat sebagai penasihat The Sahabuddin Institute, lembaga yang bergerak di bidang studi budaya dan agama, serta kerap diundang sebagai pembicara dalam diskusi publik.
Kabar Duka Menyebar, Keluarga Belum Beri Keterangan Resmi
Kepergian Syibli meninggalkan duka bagi keluarga, kerabat, dan masyarakat Sulawesi Barat yang mengenal kiprahnya di bidang keagamaan, pendidikan, dan politik.
Redaksi belum memperoleh keterangan resmi dari pihak keluarga mengenai penyebab wafat maupun jadwal pemakaman almarhum. Informasi lebih lanjut akan diperbarui setelah ada konfirmasi.