MAMUJU — Ancaman krisis pangan mulai membayangi Sulawesi Barat di tengah kemarau panjang yang dipicu Elnino. Pemerintah Provinsi mencatat sedikitnya 3.000 hektare lahan persawahan di daerah itu terancam gagal panen akibat kekeringan, dengan kabupaten terdampak terbesar berada di Mamuju Tengah dan Polewali Mandar.
Gubernur Sulawesi Barat Suhardi Duka mengungkapkan, pihaknya menargetkan 1.000 hingga 2.000 hektare lahan bisa diselamatkan melalui intervensi langsung. “Minimal ada 1.000 atau 2.000 hektare yang bisa kita selamatkan, dengan membantu dengan pompa. Kalau tidak dengan pompa, ada tangki, kita bagi ke sawah,” ujarnya di Mamuju, Kamis (27/8/2026).
Distribusi Air Bersih Mulai Berjalan di Mamuju
Dampak kekeringan tidak hanya melanda sektor pertanian. Suhardi Duka menyebut kebutuhan air bersih warga juga mulai terganggu, terutama di Kabupaten Mamuju. Pemerintah kabupaten setempat dikabarkan telah mulai membagi air bersih ke warga yang membutuhkan.
“Di Mamuju itu sudah mulai membagi air bersih. Dan nanti kita akan dukung penuh juga,” ungkap Suhardi Duka saat memimpin rapat koordinasi daerah terkait pencegahan dan penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).
3.045 Titik Panas Terpantau, Dua Kebakaran Masih Berlangsung di Mamasa
Kondisi kemarau yang menyengat turut memicu tingginya potensi kebakaran. Pemantauan pemerintah mencatat sebanyak 3.045 titik panas (hotspot) tersebar di sejumlah wilayah Sulbar. Dari jumlah tersebut, 155 titik telah mengalami kebakaran dan berhasil ditangani.
Namun, dua titik kebakaran masih terjadi di Kabupaten Mamasa. “Alhamdulillah semuanya teratasi. Tinggal dua yang saat ini masih terbakar, yaitu ada di Mamasa. Tadi saya sudah wanti-wanti supaya hari ini bisa dipadamkan,” kata Suhardi Duka.
Posko Karhutla Diperkuat, Sekda Pimpin Langsung
Menghadapi situasi ini, Pemprov Sulbar memastikan seluruh posko penanganan Karhutla di tingkat daerah telah beroperasi. Posko tingkat provinsi juga akan diperkuat dengan pimpinan langsung dari Sekretaris Daerah (Sekda).
“Sarananya kita siapkan. Selain kebakaran hutan, kebakaran permukiman juga kita jaga,” jelasnya. Langkah ini diambil untuk memastikan respons cepat jika terjadi bencana susulan di tengah musim kemarau yang diprediksi masih berlangsung.
Pemerintah berharap kombinasi bantuan pompa air dan distribusi tangki mampu menekan gagal panen. Upaya ini dinilai krusial untuk menjaga stabilitas produksi pangan Sulawesi Barat di tengah ancaman kekeringan yang dipicu Elnino.