MAJENE — BPBD Kabupaten Majene kewalahan menangani lonjakan kebakaran hutan dan lahan yang terjadi hampir setiap hari. Dalam sepekan terakhir, instansi itu rata-rata menerima tiga hingga lima laporan kejadian, dan puncaknya terjadi pada pekan lalu ketika tujuh titik kebakaran muncul bersamaan hanya dalam kurun tiga hari.
Kepala Pelaksana BPBD Majene, Suardi, menyebutkan frekuensi kejadian meningkat drastis dibanding bulan-bulan sebelumnya. Sejak Januari hingga kini, total karhutla di kabupaten itu sudah mencapai 80 titik, termasuk kebakaran yang melanda rumah warga.
Personel Terbatas, Medan Sulit
Suardi mengungkapkan keterbatasan personel dan sarana menjadi kendala utama dalam penanganan karhutla. BPBD Majene hanya memiliki lima unit armada damkar yang harus melayani delapan kecamatan, sementara medan yang sulit dan jarak tempuh yang jauh memperlambat proses pemadaman.
"Personil kami terbatas. Armada Damkar yang ada hanya 5 unit untuk melayani di delapan kecamatan. Belum lagi medan yang sulit dan jarak tempuh jauh. Kami butuh tambahan armada dan mobil tangki air," ujar Suardi di Majene, Sabtu (22/8/2026).
Pemicu Karhutla: Cuaca Ekstrem dan Pembakaran Lahan
Faktor utama pemicu karhutla di Majene adalah cuaca panas ekstrem yang disertai angin kencang. Namun, Suardi juga menyoroti masih adanya praktik pembukaan lahan dengan cara dibakar oleh masyarakat yang memperparah situasi.
Kondisi ini memaksa BPBD Majene mengandalkan bantuan lintas instansi. Personel TNI, Polri, damkar dari kabupaten tetangga, relawan, hingga masyarakat diterjunkan untuk memadamkan api.
"Tanpa gotong royong, kami tidak akan sanggup," tambahnya.
BPBD Harap Bantuan Armada dari BNPB
Suardi berharap pemerintah pusat melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) segera merespons kebutuhan ini. Penambahan armada dinilai menjadi bentuk tanggung jawab negara kepada masyarakat yang rentan terkena musibah bencana.
"Kami butuh tambahan armada dan mobil tangki air," tegasnya.
Penetapan status tanggap darurat bencana kemarau di Majene dilakukan setelah frekuensi kebakaran lahan dan hutan meningkat signifikan. Sepanjang tahun ini, total kejadian kebakaran, termasuk yang melanda rumah penduduk, telah mencapai 80 titik.