MAJENE — Seorang ibu dua anak di Kabupaten Majene, Sulawesi Barat, menjalani rutinitas ganda sebagai tenaga honorer di kantor desa dan pelaku UMKM kue rumahan. Ia membagi waktu antara menyelesaikan tugas administrasi desa pada pagi hingga siang hari, lalu melanjutkan produksi kue di dapur rumah pada sore hingga malam hari. Pembagian peran ini ia jalani setiap hari untuk menambah penghasilan keluarga.
Dari Meja Administrasi ke Dapur Produksi
Sebagai tenaga honorer, ia bertanggung jawab mengurus surat-menyurat dan data kependudukan di kantor desa. Setelah jam kerja usai, ia beralih peran menjadi produsen kue rumahan yang dipasarkan ke tetangga dan warung-warung sekitar. "Saya harus pintar-pintar bagi waktu. Pagi di kantor, sore buat kue, malam antar pesanan. Anak-anak juga harus diperhatikan," ujarnya.
Modal Kecil, Omzet Harian
Usaha kue rumahan yang ia rintis sejak dua tahun lalu bermodal peralatan dapur sederhana dan bahan baku lokal. Setiap hari, ia mampu memproduksi rata-rata 50 hingga 70 potong kue tradisional seperti bolu kukus dan kue lapis. Omzet harian yang ia peroleh berkisar antara Rp 100 ribu hingga Rp 150 ribu, cukup untuk menambah belanja dapur dan kebutuhan sekolah kedua anaknya.
Suami sebagai Mitra Distribusi
Suaminya yang bekerja sebagai buruh serabutan turun tangan membantu distribusi produk. Setelah pulang kerja, ia mengantarkan pesanan kue ke pelanggan menggunakan sepeda motor. "Saya bersyukur suami mau bantu antar. Kalau tidak, saya kewalahan karena harus jaga anak juga," kata ibu dua anak tersebut.
UMKM Jadi Penopang di Tengah Minimnya Lapangan Kerja
Fenomena ibu rumah tangga yang merangkap sebagai tenaga honorer dan pelaku UMKM cukup umum ditemui di Majene. Minimnya lapangan kerja formal di daerah membuat warga, terutama perempuan, mengandalkan usaha mikro sebagai sumber penghasilan tambahan. Pemerintah daerah setempat tercatat rutin menggelar pelatihan UMKM dan memberikan bantuan peralatan produksi bagi pelaku usaha rumahan.
Target: Punya Toko Kue Sendiri
Ke depan, ia berharap usaha kue rumahan yang ia jalani bisa terus berkembang hingga memiliki toko sendiri. "Saya ingin punya tempat jualan tetap, bukan hanya titip di warung. Tapi untuk sekarang, yang penting jalan dulu," pungkasnya. Perjuangan perempuan ini menjadi potret ketangguhan warga Sulbar dalam menghadapi tekanan ekonomi dengan memanfaatkan setiap celah peluang yang ada.