SULAWESI BARAT — Tekanan terhadap rupiah semakin intensif seiring penguatan dolar AS di kawasan Asia. Mayoritas mata uang regional ikut terpuruk, dengan won Korea Selatan memimpin pelemahan sebesar 0,74%, disusul baht Thailand 0,18%, dan yen Jepang 0,08%. Hanya rupee India dan yuan China yang mencatat pelemahan lebih moderat, masing-masing 0,04% dan 0,01%.
Sentimen Global Mereda, Domestik Masih Jadi Beban
Analis Doo Financial Lukman Leong mengatakan bahwa kekhawatiran pasar global mulai mereda setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan akan menunda rencana serangan terhadap Iran. Namun, faktor ini belum cukup untuk mendorong penguatan signifikan rupiah. “Pelaku pasar tetap mencermati kondisi domestik yang dinilai masih lemah,” ujar Lukman.
Ia menambahkan, ekspektasi kenaikan suku bunga oleh Bank Indonesia justru membuat investor cenderung wait and see. “Pelaku pasar berhati-hati dalam mengambil posisi karena menanti keputusan BI,” jelasnya. Lukman memperkirakan pergerakan rupiah hari ini akan berada di rentang 17.600 hingga 17.700 per dolar AS.
Fakta Singkat Pelemahan Rupiah
- Level terlemah sepanjang sejarah: Rp 17.724 per dolar AS (10.24 WIB)
- Pelemahan year-to-date: 6,25%
- Pembukaan: melemah 13 poin ke Rp 17.681 per dolar AS
- Tekanan eksternal: dolar AS menguat di hampir seluruh mata uang Asia
BI Rate Jadi Penentu Arah Rupiah Selanjutnya
Fokus utama pasar saat ini tertuju pada hasil RDG Bank Indonesia yang dijadwalkan dalam waktu dekat. Pasar memperkirakan BI akan menaikkan suku bunga acuan untuk menahan laju pelemahan rupiah di tengah derasnya arus modal asing keluar. Keputusan ini dinilai krusial karena akan menentukan daya tarik aset rupiah di mata investor global.
Jika BI menaikkan suku bunga, imbal hasil obligasi domestik berpotensi naik, yang bisa menjadi daya tarik bagi investor asing. Namun, di sisi lain, kenaikan suku bunga juga berisiko memperlambat pertumbuhan ekonomi domestik yang masih dalam masa pemulihan.
Investasi mengandung risiko. Pelaku pasar disarankan mencermati perkembangan kebijakan moneter dan data ekonomi global dalam menentukan strategi investasi jangka pendek.