JAKARTA — Anjungan Provinsi Sulawesi Barat kembali mengukuhkan eksistensinya di kancah nasional dengan menyabet dua penghargaan bergengsi pada ajang Pradana Nitya Budaya 2026. Dalam seremoni yang berlangsung di kawasan Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jumat (1/5/2026), Sulawesi Barat dinobatkan sebagai pemenang kategori Hospitality Terbaik sekaligus menembus peringkat 13 besar anjungan terbaik nasional.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyerahkan langsung penghargaan tersebut dalam agenda resmi yang dihadiri sejumlah pejabat tinggi negara. Tampak hadir Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa serta Wakil Menteri Pertahanan Marsekal TNI (Purn) Donny Ermawan Taufanto. Prestasi ini mengulang kesuksesan serupa yang pernah diraih Sulawesi Barat pada periode tahun sebelumnya.
Penghargaan Pradana Nitya Budaya merupakan instrumen evaluasi tahunan bagi pengelola anjungan daerah di TMII. Fokus penilaian mencakup efisiensi pengelolaan, inovasi program, hingga kemampuan daerah dalam merawat identitas budaya Nusantara di tengah modernisasi Jakarta.
Kriteria Ketat Penilaian 13 Anjungan Terbaik Nasional
Proses kurasi dan penilaian dilakukan secara maraton selama tiga hari oleh tim juri profesional. Dari total 34 provinsi yang berpartisipasi, Anjungan Sulawesi Barat berhasil meyakinkan dewan juri melalui performa yang konsisten pada lima aspek utama. Kriteria tersebut meliputi tata kelola anjungan, program budaya berkala, kualitas SDM pelayanan, kondisi fisik bangunan, serta aspek kolaborasi.
Keberhasilan masuk dalam jajaran 13 besar menunjukkan bahwa manajemen Anjungan Sulawesi Barat mampu menjaga standar operasional yang tinggi. Penilaian ini tidak hanya melihat keindahan fisik bangunan, tetapi juga sejauh mana anjungan tersebut berfungsi sebagai ruang hidup bagi aktivitas seni dan edukasi masyarakat.
“Penghargaan ini merupakan bentuk apresiasi bagi anjungan daerah TMII yang unggul dalam pengelolaan, pelestarian budaya, dan pelayanan pengunjung. Penghargaan ini juga diharapkan mendorong inovasi, pengukuran kinerja, serta efisiensi, sekaligus menjadi apresiasi atas peran pemerintah daerah dalam menjalankan dan menjaga budaya Nusantara,” ujar Menteri Kebudayaan Fadli Zon dalam sambutannya.
Hospitality Sebagai Representasi Karakter Masyarakat Sulbar
Kategori Hospitality Terbaik yang diraih Sulawesi Barat menjadi sorotan utama karena menitikberatkan pada kehangatan pelayanan dan keramah-tamahan kepada pengunjung. Dewan juri menilai pengelola anjungan mampu menghadirkan pengalaman emosional positif bagi setiap tamu yang datang mengenal budaya Mandar, Mamasa, hingga Bugis di lokasi tersebut.
Kepala Badan Penghubung Daerah Provinsi Sulawesi Barat, Gemilang Sukma, menegaskan bahwa predikat hospitality terbaik bukan sekadar soal pelayanan teknis. Menurutnya, hal itu merupakan manifestasi dari jati diri masyarakat Sulawesi Barat yang dikenal sangat memuliakan tamu.
“Penghargaan ini menjadi kebanggaan bagi Sulawesi Barat. Selain kategori hospitality terbaik, masuk dalam peringkat 13 besar dari 34 anjungan adalah bukti bahwa kerja keras pengelolaan anjungan berjalan baik. Ini mencerminkan budaya Sulawesi Barat yang menjunjung tinggi keramahan dan pelayanan kepada tamu,” kata Gemilang Sukma.
Sinkronisasi Program Pancadaya dan Etalase Budaya
Pencapaian di TMII ini dinilai sejalan dengan visi pembangunan daerah di bawah kepemimpinan Gubernur Suhardi Duka. Semangat Pancadaya yang menjadi arah kebijakan Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat menekankan pada penguatan nilai sosial dan budaya sebagai pilar pembangunan masyarakat.
Anjungan Sulawesi Barat di TMII berfungsi sebagai garda terdepan atau etalase untuk mempromosikan potensi daerah. Dengan predikat hospitality terbaik, anjungan ini diharapkan menjadi magnet yang lebih kuat bagi wisatawan maupun investor untuk mengenal lebih jauh kekayaan alam dan tradisi di Bumi Manakarra.
Selain Sulawesi Barat, beberapa provinsi lain juga mencatatkan prestasi pada kategori berbeda. Anjungan Sumatera Selatan meraih penghargaan Tata Pamer Terbaik, sementara Jawa Timur mendapatkan penghargaan Resiliensi Terbaik. Adapun piala bergilir Pradana Nitya Budaya 2026 kembali dibawa pulang oleh Provinsi Kalimantan Selatan, diikuti Bali di peringkat kedua dan Jawa Tengah di posisi ketiga.
Melalui momentum penghargaan ini, Badan Penghubung Sulawesi Barat berkomitmen untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan dan inovasi program budaya. Langkah ini diambil agar anjungan daerah tidak hanya menjadi bangunan statis, melainkan menjadi pusat literasi budaya yang adaptif bagi generasi muda di tingkat nasional.