SULAWESI BARAT — Presiden FIFA Gianni Infantino menyampaikan permintaan maaf kepada Dewan FIFA atas rencana penjualan hak komersial Piala Dunia yang ia batalkan dalam beberapa hari. Meski begitu, sejumlah anggota dewan menilai permintaan maaf itu belum cukup dan mempertanyakan kelayakannya memimpin badan sepak bola dunia tersebut.
Pertemuan Dewan FIFA berlangsung di Zurich, pertemuan pertama sejak bocornya proposal rahasia FIFA Forward Enterprise (FFE). Dalam rencana yang sempat beredar, sebagian hak komersial FIFA hendak diserahkan kepada perusahaan investasi swasta sebelum Infantino membatalkannya sendiri.
Wakil Presiden FIFA sekaligus Ketua Asosiasi Sepak Bola Inggris (FA), Debbie Hewitt, menyatakan banyak pertanyaan dewan tidak mendapatkan jawaban memuaskan. Ia menyoroti permintaan dokumen FFE yang tak kunjung dipenuhi.
"Salah satu hal yang mengecewakan adalah kami tidak mendapat jawaban atas apa pun yang kami minta secara spesifik - misalnya mendapatkan dokumen dari FFE," kata Hewitt. "Saya bertanya 'kenapa tidak?' - dan kami diminta mengajukan pertanyaan itu secara tertulis."
Hewitt menegaskan Infantino harus menjawab seluruh pertanyaan tersebut. Menurutnya, jika presiden FIFA tidak mampu menjawab, ia dinilai tidak layak memimpin organisasi itu.
"Menurut saya orang ini harus menjawab pertanyaan-pertanyaan itu dan jika dia tidak menjawabnya sekarang, dia tidak layak menjadi presiden FIFA - dan itulah yang disampaikan dalam rapat," ujarnya.
Hewitt mengakui ada "sedikit penyesalan" dalam permintaan maaf Infantino. Namun ia menilai sikap itu belum menyentuh inti persoalan, terutama soal alasan proposal FFE tidak dibawa lebih dulu ke dewan.
"Yang benar-benar dia minta maafkan adalah tidak membawanya ke dewan. Jika Anda benar-benar menyesal, bagikanlah kepada kami," tambah Hewitt.
Pertemuan berlangsung sekitar tiga setengah jam. Selain FFE, Infantino juga menghadapi pertanyaan soal hukuman kartu merah yang ditangguhkan untuk penyerang Amerika Serikat Folarin Balogun, FIFA Peace Prize, serta pendanaan untuk asosiasi nasional.
UEFA, badan pengatur sepak bola Eropa, menjadi salah satu pengkritik paling keras Infantino dan berulang kali menuntut ia mundur. UEFA bahkan menyiapkan langkah hukum pidana terhadap Infantino dan mengajukan klaim ke tiga pengadilan Amerika Serikat agar seluruh dokumen terkait FFE dibuka.
Ditanya soal perubahan sikap UEFA, Hewitt menegaskan posisinya tak bergeser. "Dari posisi saya, tidak ada yang berubah. Saya tidak punya informasi baru yang membuat saya merasa berbeda, selain bahwa kita punya presiden yang meminta maaf," katanya.
Infantino akan mencalonkan diri kembali sebagai presiden FIFA untuk periode ketiga pada Maret mendatang. Hingga kini belum ada kandidat kredibel yang muncul menantangnya.
Mantan bek Tottenham dan Swiss, Ramon Vega, menyatakan niatnya maju, tetapi peluangnya mengumpulkan lima surat dukungan dari asosiasi anggota dinilai kecil. Sejumlah tokoh senior sepak bola Eropa dikabarkan menginginkan mantan manajer Arsenal, Arsene Wenger, maju - meski belum jelas apakah ia bersedia meninggalkan posisinya sebagai kepala pengembangan sepak bola global FIFA.
Hewitt menegaskan UEFA dan pihak lain yang berseberangan dengan Infantino harus menemukan kandidat sebelum batas waktu pencalonan 18 November. Ia menilai penting bagi Infantino memiliki penantang setelah dua kali terpilih tanpa lawan pada 2019 dan 2023.
"Saya pikir penting bagi Gianni memiliki seseorang yang maju dengan manifesto berbeda, dan baik bagi FIFA memiliki pilihan itu," ujar Hewitt. "Kita berada dalam demokrasi di sini. Kita harus ingat ada 211 asosiasi dan sangat penting bagi semua asosiasi itu memiliki kesempatan memilih sesuai pandangan mereka."