SULAWESI BARAT — Kapwing menganalisis 10.742 video TikTok dari 20 kategori populer. Mereka juga menguji akun baru dengan melihat 500 video pertama yang muncul di halaman For You (FYP). Hasilnya, hampir enam dari sepuluh video yang disajikan ke pengguna baru adalah konten AI—atau yang sering disebut AI slop—tanpa riwayat tontonan sebelumnya.
Kondisi paling parah terjadi pada konten yang menargetkan anak-anak. Di tag #CartoonKids, 97 dari 100 video yang diperiksa adalah buatan AI, menyisakan hanya tiga video buatan manusia. Tag terkait seperti #cartoons dan #babysong sama-sama mencapai 83%, sementara #forkids menyentuh 79%.
Angka ini kemungkinan lebih tinggi dari yang dilaporkan. Kapwing hanya mengidentifikasi konten yang "secara jelas menggunakan naskah dan sulih suara AI." Konten AI yang lebih halus atau menggunakan teknik manipulasi visual tidak terhitung dalam studi ini.
Menurut laporan TNW yang mengutip studi Kapwing, masalah ini didorong oleh insentif platform. "Platform video memberi imbalan pada kuantitas ketimbang kualitas," tulis Ana Maria Constantin dari Kapwing. Hal ini mendorong kreator untuk mengunggah konten buatan AI secara massal demi mengejar algoritma.
Kabar baiknya, pengguna bisa melatih algoritma untuk menampilkan lebih sedikit konten AI. Semakin banyak interaksi dengan konten buatan manusia, semakin rendah proporsi AI slop yang muncul di FYP.
Temuan ini relevan bagi pengguna TikTok di Indonesia yang merupakan salah satu pasar terbesar platform tersebut. Dengan 97% konten anak di tag tertentu adalah AI, orang tua perlu lebih selektif dalam mengawasi tontonan anak. Sementara itu, kreator konten lokal yang membuat karya orisinal buatan manusia justru kalah bersaing dari segi volume dengan konten AI yang diproduksi massal.
Kapwing menekankan bahwa masalah ini diprediksi akan memburuk seiring semakin canggihnya teknologi generatif. Tanpa perubahan kebijakan dari platform, pengguna harus secara aktif memilih konten yang ingin mereka lihat.