SULAWESI BARAT — Menurut Nyanyang, pemahaman terhadap seni dan kebudayaan lokal bukan sekadar pelengkap pendidikan formal, melainkan elemen krusial yang membentuk identitas, kreativitas, dan karakter tangguh seorang anak bangsa. Ia menyebutkan bahwa nilai-nilai luhur yang terkandung dalam tradisi dan kesenian daerah dapat menjadi filter bagi generasi muda untuk menghadapi tantangan global.
Nyanyang menekankan bahwa di era digital yang serba cepat, banyak anak muda mulai terputus dari warisan budayanya sendiri. Padahal, seni tradisional mengajarkan disiplin, kerja sama, dan penghargaan terhadap proses—nilai yang sama pentingnya dengan kecerdasan intelektual.
"Kami ingin anak-anak Sulbar tidak hanya pintar secara akademis, tetapi juga memiliki kepribadian yang kuat. Seni adalah cara paling indah untuk menanamkan nilai-nilai itu," ujar Nyanyang dalam keterangan yang diterima Radar Sulbar.
Acara di TMII itu tidak hanya menjadi ajang promosi budaya Sulbar, tetapi juga simbol kolaborasi antardaerah. Kehadiran Bunda Pendidikan Sulbar di panggung nasional ini dinilai strategis untuk memperkuat posisi kebudayaan lokal dalam ekosistem pendidikan di daerah.
Dalam kesempatan yang sama, Nyanyang juga mendorong para pemuda untuk aktif di sanggar-sanggar seni dan komunitas budaya. Ia menilai regenerasi seniman dan budayawan adalah kunci agar tradisi Sulbar tidak punah.
Langkah selanjutnya, Nyanyang berencana menggandeng Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Sulbar untuk mengintegrasikan muatan seni lokal ke dalam kegiatan ekstrakurikuler sekolah. Ia optimistis, dengan pendekatan yang tepat, kebudayaan bisa menjadi "senjata" paling ampuh untuk mencetak pemimpin masa depan yang berintegritas.