SULAWESI BARAT — PT BYD Motor Indonesia akhirnya angkat bicara terkait pemberitaan penumpukan kontainer di Pelabuhan Tanjung Priok yang ramai beberapa waktu terakhir. Melalui pernyataan resmi, Head of Marketing PR and Government Relations PT BYD Motor Indonesia Luther Panjaitan menyampaikan bahwa kontainer milik perusahaan hanya sebagian kecil dari total volume kontainer yang menjadi sorotan di pemberitaan.
"Kami menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan yang timbul akibat situasi tersebut. Setelah kami cek angkanya secara komprehensif, jumlah kontainer milik BYD merupakan sebagian kecil dari total volume kontainer yang menjadi perhatian," ujar Luther, Jumat (19/6), seperti dikutip dari CNBC Indonesia.
Dalam kesempatan yang sama, Luther meluruskan informasi yang sempat berkembang di publik. Ia menegaskan bahwa kontainer yang menumpuk bukan berisi mobil utuh yang siap jual, melainkan komponen untuk keperluan perakitan. "Sebagai informasi tambahan, kontainer tersebut bukan berisikan mobil, tetapi komponen untuk proses perakitan," jelasnya.
Pernyataan ini sekaligus menjawab spekulasi yang menyebutkan bahwa BYD sengaja menimbun unit mobil di pelabuhan untuk kepentingan tertentu.
Manajemen BYD menepis anggapan bahwa perusahaan sengaja memperlambat distribusi kontainer keluar pelabuhan. Menurut Luther, tidak ada kepentingan bagi perusahaan untuk menahan barang lebih lama di kawasan pelabuhan karena justru akan menimbulkan biaya tambahan yang besar.
"Tidak ada upaya kesengajaan untuk memperlambat proses, mengingat biaya penyimpanan dan tambahan penalti harian di pelabuhan justru lebih besar dibandingkan biaya logistik dan penyimpanan baik milik sendiri maupun temporary," tegasnya.
Luther memaparkan sejumlah faktor yang menyebabkan perlambatan arus distribusi barang dari pelabuhan. Bukan satu faktor tunggal, melainkan kombinasi dari beberapa aspek operasional dan logistik.
"Termasuk tingginya volume kedatangan barang dalam periode bersamaan secara reguler setiap minggu, adanya sejumlah hari libur nasional, kepadatan lalu lintas distribusi, serta penyesuaian kapasitas pengangkutan perusahaan logistik atas dampak kenaikan BBM," paparnya.
Di tengah tekanan tersebut, BYD mengklaim telah berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk mempercepat proses distribusi. Perusahaan juga menambah kapasitas armada logistik guna mempercepat pengeluaran barang dari kawasan pelabuhan. Hasilnya, sebagian besar kontainer yang sebelumnya tertahan sudah berhasil dipindahkan.
Sementara itu, Direktur Jenderal Bea Cukai Djaka Budhi Utama menyoroti praktik pemanfaatan fasilitas pelabuhan oleh pabrikan otomotif. Menurutnya, penumpukan terjadi bukan karena proses administrasi kepabeanan, melainkan karena perusahaan importir tidak segera melakukan pengeluaran barang dari pelabuhan tujuan.
"Contohnya seperti BYD, kemudian dari Wuling, itu masih memanfaatkan fasilitas yang diberikan oleh pelabuhan selama tiga hari setelah SPPB (Surat Persetujuan Pengeluaran Barang) keluar, bahkan lebih dari dua minggu dia tidak angkat ke luar. Kemarin itu hampir sekitar 10 ribu kontainer yang masih ada di pelabuhan," jelas Djaka.
BYD kini terus memantau proses pemindahan barang dan berharap seluruh kontainer yang masih berada di pelabuhan dapat segera keluar dalam waktu dekat.