SULAWESI BARAT — Direktur Utama PT Ceria Metalindo Prima, Aldo Namora, menjadi panelis dalam sesi bertajuk "Upstream Opportunities & Challenges for Nickel Mine Owners". Ia menjelaskan, Ceria tidak hanya mengandalkan satu jalur pengolahan. Bijih saprolit diproses lewat teknologi Pyrometallurgy (RKEF) menjadi feronikel berkadar tinggi. Sementara itu, bijih limonit disiapkan untuk diolah dengan teknologi Hydrometallurgy (HPAL) menjadi Mixed Hydroxide Precipitate (MHP)—bahan baku industri baterai kendaraan listrik.
"Bagi Ceria, keberlanjutan adalah bagian dari DNA perusahaan. Seluruh pengembangan bisnis kami dibangun berdasarkan prinsip pemanfaatan sumber daya yang optimal, bertanggung jawab, dan mampu memberikan nilai tambah maksimal bagi Indonesia," ujar Aldo dalam keterangan resmi, Minggu (7/6).
Dari sisi lingkungan, Ceria mengandalkan pasokan listrik dari PT PLN (Persero) yang bersumber dari energi terbarukan. Perusahaan juga memiliki Renewable Energy Certificate (REC) yang diakui secara internasional melalui sistem APX, Inc. TIGRs. Langkah ini menjadi fondasi produksi nikel hijau yang ramah lingkungan.
Ceria tidak hanya bicara soal teknologi. Perusahaan mengklaim lebih dari 65% tenaga kerja berasal dari wilayah sekitar operasional. Lewat program pengembangan kompetensi, pemberdayaan UMKM, serta dukungan terhadap sektor pertanian dan perikanan, Ceria berusaha menciptakan efek ekonomi langsung bagi masyarakat. Pelaku usaha lokal juga dilibatkan dalam rantai pasok perusahaan.
Untuk memperkuat tata kelola, Ceria tengah mempersiapkan penerapan standar IRMA—sebuah sertifikasi global untuk praktik pertambangan yang bertanggung jawab.
Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi/Wakil Kepala BKPM, Todotua Pasaribu, yang hadir dalam forum yang sama, menegaskan mineral kritis kini makin strategis di tengah kebutuhan global terhadap bahan baku teknologi dan energi bersih. Menurutnya, Indonesia punya peluang besar memperkuat posisi di rantai pasok global lewat hilirisasi terintegrasi dari hulu ke hilir.
"Sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto, pengembangan industri pengolahan dan pemurnian mineral terus didorong sebagai salah satu pilar utama transformasi industri nasional," ujar Todotua.
Melalui pengembangan kawasan pertambangan dan fasilitas pengolahan terintegrasi berbasis prinsip ESG, Ceria optimistis bisa memperkuat posisi Indonesia sebagai pusat industri mineral kritis dunia.