SULAWESI BARAT — Lomba yang berlangsung selama dua hari itu bukan sekadar ajang adu ketangkasan baris-berbaris. Panitia menyematkan muatan wawasan kebangsaan di setiap sesi perlombaan. Para peserta harus menjawab pertanyaan seputar Pancasila, UUD 1945, dan sejarah pergerakan nasional di sela-sela penampilan.
Panitia membagi lomba ke dalam empat kategori: umum, pelajar SMA/sederajat, pelajar SMP/sederajat, dan pelajar SD/sederajat. Setiap tim terdiri dari delapan hingga dua belas orang. Mereka dinilai oleh juri dari TNI dan PPI pusat.
Kepala Bidang Pendidikan dan Pelatihan PPI Kaltim, Andi Pratama, mengatakan lomba ini dirancang untuk menanamkan nasionalisme sejak dini. "Kami tidak hanya mencari juara, tapi membentuk karakter generasi muda yang cinta tanah air," ujarnya.
Wakil Ketua MPR RI, Ahmad Basarah, dalam sambutan tertulis yang dibacakan staf ahlinya, menyebut kegiatan ini bagian dari program sosialisasi empat pilar kebangsaan. Menurut dia, lomba baris-berbaris adalah medium efektif untuk menginternalisasi nilai-nilai Pancasila tanpa menggurui.
"Anak-anak muda belajar disiplin, kerja sama tim, dan penghormatan terhadap simbol negara melalui aktivitas fisik yang menyenangkan," kata Basarah dalam naskah sambutan yang diterima redaksi, Senin (15/4).
Yang menarik, beberapa peserta berasal dari sekolah di daerah pedalaman Kutai Barat dan Mahakam Ulu. Mereka menempuh perjalanan lebih dari delapan jam untuk tiba di Samarinda. Seorang guru pendamping dari SMA Negeri 1 Long Bagun, Siti Rahmawati, mengaku bangga murid-muridnya bisa tampil percaya diri di hadapan dewan juri.
"Ini pengalaman pertama mereka lomba di tingkat provinsi. Bagi kami di pedalaman, kegiatan seperti ini sangat langka," ujar Siti.
Setelah melalui penilaian ketat, tim dari SMK Negeri 2 Samarinda keluar sebagai juara umum kategori pelajar SMA. Sementara juara favorit diraih tim dari SMP Negeri 1 Penajam Paser Utara. Para pemenang mendapat trofi, piagam, dan uang pembinaan dari MPR RI.
Ketua PPI Kaltim, Muhammad Fadli, menyatakan pihaknya akan mengusulkan agar lomba serupa digelar rutin setiap tahun. "Kami ingin ini menjadi agenda tetap yang melibatkan lebih banyak sekolah, termasuk dari daerah perbatasan," katanya.
Lomba ditutup dengan defile gabungan seluruh peserta dan pengibaran bendera raksasa berukuran 10 x 15 meter di halaman kantor Gubernur Kaltim. Para pelajar tampak antusias, berteriak yel-yel khas daerah masing-masing.