MAMUJU TENGAH — Ribuan aparatur sipil negara, personel TNI/Polri, tokoh masyarakat, dan pelajar memadati Lapangan Kantor Bupati Mamuju Tengah pada Senin lalu. Mereka mengikuti upacara peringatan Hari Lahir Pancasila yang tahun ini mengusung tema “Pancasila Pemersatu Bangsa, Fondasi Perdamaian Dunia”.
Wakil Bupati Mamuju Tengah, Askary Anwar, bertindak sebagai inspektur upacara. Dalam pidatonya yang membacakan amanat tertulis Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), ia mengingatkan bahwa semangat Pancasila harus menjadi kompas moral di tengah lompatan teknologi digital yang disruptif dan dinamika geopolitik global.
Askary secara khusus menyasar generasi muda. Ia mengajak para milenial dan Gen Z di Mamuju Tengah untuk tidak melihat Pancasila sebagai pajangan beku di buku sejarah atau dinding kantor. Sebaliknya, ideologi ini harus menjadi living ideology yang memandu etika bermedia sosial dan pemanfaatan teknologi ekonomi.
“Nilai luhur Pancasila telah terbukti tangguh menjadi perekat dan peredam guncangan di tengah ketidakpastian dunia,” ujar Askary dalam orasinya di hadapan peserta upacara.
Tak hanya menyasar akar rumput, sentilan keras juga dialamatkan kepada jajaran birokrasi. Di hadapan para pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD), Askary menitipkan pesan agar setiap kebijakan publik, perencanaan anggaran, hingga eksekusi pembangunan daerah wajib bersandar pada nilai-nilai keadilan sosial.
Upacara yang berlangsung khidmat itu juga menjadi momentum untuk memperkuat kembali tradisi gotong royong. Askary menilai solidaritas sosial perlahan mulai terkikis oleh ego individualisme modern yang kian menguat.
Kabupaten Mamuju Tengah, yang dijuluki Bumi Lalla Tassisara, merupakan potret mini Indonesia. Wilayah ini kaya akan keberagaman suku, agama, dan latar belakang budaya. Menurut Askary, keberagaman itu justru menjadi modal sosial yang harus dirawat dengan semangat Pancasila.
Dalam amanat yang dibacakannya, Askary juga merujuk pada mandat UUD 1945. Ia menyebut nilai-nilai gotong royong dan persatuan yang termaktub dalam Pancasila merupakan modal diplomasi krusial bagi stabilitas dan penyelesaian konflik kemanusiaan di panggung internasional.
“Selama semangat Pancasila mengalir dalam darah kita, Indonesia akan tetap tegap dan damai,” ucap Askary menutup pidatonya.