SULAWESI BARAT — Tim ilmuwan NASA menemukan bahwa kondisi ekstrem di permukaan Bulan tidak sepenuhnya mematikan bagi kehidupan mikroba asal Bumi. Berbeda dengan asumsi sebelumnya yang menyebut radiasi ultraviolet dan panas matahari sebagai pembunuh utama, studi ini mengungkap adanya "zona aman" di wilayah kutub selatan dan utara Bulan.
Penelitian yang menganalisis tiga jenis bakteri dan dua jenis jamur ini menunjukkan bahwa mikroorganisme tersebut bisa bertahan hidup dalam kondisi mati suri (kriptobiosis). Dalam fase ini, mikroba tidak bergerak atau tumbuh, tetapi tetap hidup dan bisa aktif kembali jika kondisi lingkungan memungkinkan.
Kutub Bulan Jadi "Lemari Es" Bumi
Wilayah kutub Bulan menyimpan kawah-kawah yang tidak pernah tersentuh sinar matahari. Area yang tertutup bayangan permanen ini, yang juga menyimpan es air, menjadi kandidat utama lokasi mikroba bisa bertahan. Peneliti membandingkan data ketahanan mikroba dengan peta pembacaan sinar ultraviolet dan panas di permukaan Bulan untuk sampai pada kesimpulan ini.
Menariknya, mikroba ini tidak membutuhkan perlindungan besar. "Jejak roda kendaraan atau jejak sepatu astronaut saja bisa menciptakan area yang layak huni untuk mikroba," tulis tim peneliti dalam publikasinya. Artinya, aktivitas manusia di Bulan secara tidak sengaja bisa menciptakan lingkungan yang mendukung kehidupan mikroba.
Ancaman Kontaminasi Misi Artemis IV
Temuan ini menjadi peringatan serius bagi NASA menjelang misi Artemis IV yang direncanakan membawa astronaut ke permukaan Bulan. Heather Graham, pakar geokimia organik di NASA Goddard Space Flight Center, menegaskan pentingnya kewaspadaan terhadap material yang dibawa manusia ke luar angkasa.
"Temuan kami menunjukkan bahwa kami harus lebih berhati-hati tentang material yang mungkin secara tidak sengaja kita bawa saat menjelajahi luar angkasa, dan dampak yang kita timbulkan," kata Graham, dikutip dari Space.com, Senin (24/8/2026).
Mikroba Bumi Sudah Pernah Sampai ke Bulan?
Selain risiko kontaminasi dari misi berawak, para ilmuwan juga membuka kemungkinan bahwa mikroba Bumi sudah pernah tiba di Bulan secara alami. Tabrakan kosmik kuno yang melontarkan batuan dari Bumi bisa saja membawa mikroorganisme dan mendarat di permukaan Bulan.
Prabal Saxena, ilmuwan planet di NASA Goddard Space Flight Center, menyebut Bulan sebagai arsip alami yang mengawetkan bukti masa lalu Bumi. "Bulan mungkin seperti lemari es Bumi, yang mengawetkan bukti-bukti masa lalu Bumi yang sangat menarik jika bukti-bukti tersebut mendarat di kutub Bulan," ujarnya.
Dampak untuk Eksplorasi dan Sains
Temuan ini mengubah paradigma tentang batas kehidupan di tata surya. Jika mikroba Bumi bisa bertahan di Bulan, maka kemungkinan kehidupan mikroba di bulan-bulan es Jupiter atau Saturnus seperti Europa dan Enceladus juga perlu dipertimbangkan ulang. Studi ini juga menjadi dasar bagi pengembangan protokol perlindungan planet yang lebih ketat untuk semua misi luar angkasa di masa depan.
Untuk konteks Indonesia, temuan ini relevan dengan perkembangan program antariksa nasional dan meningkatnya minat publik pada eksplorasi luar angkasa. BRIN yang tengah mengembangkan program satelit dan riset antariksa bisa menjadikan studi ini sebagai bahan pertimbangan kebijakan ke depan.