SULAWESI BARAT — Kebakaran hebat yang melanda Kampung Adat Sade, Desa Rambitan, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, memaksa 150 warga bertahan di tenda darurat. Mereka memilih mendirikan tenda tepat di atas bekas fondasi rumah masing-masing ketimbang mengungsi ke tempat yang lebih jauh dari lokasi.
"Kami bersihkan sisa-sisa abu dulu. Rencananya mau pasang tenda di atas fondasi ini buat tempat tinggal sementara," ujar Bagi, salah seorang warga terdampak, Senin (24/8/2026).
Proses pembersihan dilakukan secara gotong royong. Warga menyapu abu, memilah material bangunan yang masih layak pakai, dan meratakan tanah bekas rumah mereka yang hangus dilalap api.
Kerusakan Mencapai 152 Bangunan, Sebagian Besar Rumah Adat Sasak
Pendataan terakhir di lokasi kejadian mencatat total bangunan yang terdampak mencapai 152 unit. Dari jumlah tersebut, 89 bangunan merupakan rumah adat khas Suku Sasak yang material utamanya kayu, bambu, dan beratap ilalang.
Kerugian material diperkirakan mencapai miliaran rupiah, meski warga belum bisa memastikan angka pastinya. Dampak kerusakan disebut cukup luas karena api dengan cepat membakar material rumah adat yang mudah terbakar.
Warga lain, Rohan, berharap pemerintah daerah maupun pusat segera turun tangan membantu renovasi permukiman cagar budaya tersebut. "Kami tidak mau terlalu lama bertahan di tenda pengungsian," katanya.
Polisi Olah TKP untuk Cari Titik Api Pertama
Tim Laboratorium Forensik (Labfor) Polda Bali bersama Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Lombok Tengah mengolah tempat kejadian perkara (TKP) untuk mengungkap pemicu pasti kebakaran. Penyisiran difokuskan pada salah satu rumah warga yang diduga kuat menjadi titik awal kemunculan kobaran api.
Pemeriksaan menyeluruh dilakukan terhadap bangunan tersebut, termasuk mencari jejak bahan mudah terbakar atau indikasi hubungan arus pendek listrik. Hasil olah TKP ini akan menentukan apakah peristiwa ini murni kecelakaan atau ada unsur kelalaian.
Nasib Ekonomi Warga dan Pariwisata Cagar Budaya
Kampung Adat Sade merupakan salah satu destinasi wisata andalan Lombok Tengah yang menampilkan arsitektur tradisional Suku Sasak. Kebakaran ini tidak hanya meluluhlantakkan tempat tinggal warga, tetapi juga mengancam denyut ekonomi masyarakat yang menggantungkan hidup dari kunjungan wisatawan.
Masyarakat adat setempat berharap percepatan rekonstruksi segera direalisasikan. Pemulihan kawasan cagar budaya ini dinilai krusial agar sektor pariwisata yang menjadi penopang utama ekonomi warga bisa kembali berputar.
Belum ada pernyataan resmi dari pemerintah kabupaten mengenai skema bantuan atau jadwal pembangunan kembali rumah adat yang rusak. Warga hanya bisa menunggu sambil menata kehidupan darurat di tengah puing-puing rumah mereka.