SULAWESI BARAT — DFSK memperkenalkan emblem khusus untuk lini kendaraan komersial di Periklindo Electric Vehicle Show (PEVS) 2026 di Kemayoran, Jakarta Pusat. Emblem baru ini menjadi pembeda visual produk niaga DFSK sekaligus penanda strategi elektrifikasi lewat Gelora E. Pabrik Cikande, Banten, yang beroperasi sejak 2017, mendukung produksi dengan sekitar 90% proses robotik.
Langkah pembaruan identitas visual tersebut diumumkan langsung oleh PT Sokonindo Automobile selaku agen pemegang merek DFSK di Indonesia. Emblem komersial dipisahkan dari lini kendaraan penumpang agar karakter produk lebih tegas di mata pelaku usaha.
COO PT Sokonindo Automobile Franz Wang menyebut segmen komersial punya kebutuhan berbeda dari kendaraan pribadi. Identitas produk, katanya, harus mengikuti karakter segmen yang dilayani.
"Bagi kami, kendaraan komersial bukan sekadar alat transportasi, tetapi bagian penting dari operasional dan keberlangsungan bisnis pelanggan," kata Franz Wang di Kemayoran, Jakarta Pusat.
"Karena itu, identitas produk perlu berkembang mengikuti karakter segmennya, sementara komitmen kami terhadap kualitas, layanan, dan pelanggan tetap sama," tambahnya.
Di sektor elektrifikasi, DFSK mengandalkan Gelora E sebagai kendaraan niaga listrik. Model ini dipasarkan dalam dua pilihan bodi untuk kebutuhan angkutan barang maupun penumpang.
Dua kapasitas baterai tersebut memberi ruang bagi konsumen memilih sesuai intensitas operasional harian. Untuk angkutan barang jarak dekat, varian kapasitas lebih kecil bisa jadi pilihan lebih efisien secara biaya.
Fasilitas manufaktur PT Sokonindo Automobile di Cikande, Banten, menjadi tulang punggung produksi lokal DFSK. Pabrik yang beroperasi sejak 2017 itu memakai teknologi modern dengan sekitar 90% proses produksi didukung sistem robotik.
Otomasi pada level tersebut berfungsi menjaga konsistensi kualitas antarunit sekaligus menekan waktu produksi. Bagi kendaraan komersial yang dipakai bekerja setiap hari, konsistensi hasil rakitan berpengaruh langsung ke biaya perawatan pemilik.
DFSK juga memperkuat jaringan dealer dan layanan purnajual sebagai penopang bisnis kendaraan niaga. Dukungan purnajual dinilai krusial karena kendaraan komersial menanggung aktivitas usaha harian yang tidak bisa berhenti lama.
Kombinasi emblem baru, Gelora E, dan fasilitas produksi lokal menunjukkan arah DFSK memperkuat posisi di pasar kendaraan komersial Tanah Air. Segmen kendaraan niaga listrik di Indonesia masih tergolong kecil, tetapi tumbuh seiring kebutuhan logistik perkotaan yang menuntut biaya operasional lebih rendah.
Gelora E bersaing di ceruk yang belum banyak diisi pesaing, terutama untuk blind van listrik yang dipakai usaha last-mile delivery. Harga jual dan ketersediaan unit di dealer menjadi faktor penentu seberapa cepat penetrasi model ini di pasar lokal.