Bayi Salmawati Lahir di Pinggir Jalan Pamoseang Mamasa, Sempat Tak Bernapas Sebelum Dilarikan ke Puskesmas Mambi

Penulis: Yanto Prasetya  •  Minggu, 20 September 2026 | 11:02:01 WIB

MAMASA — Proses persalinan Salmawati berlangsung Sabtu, 19 September 2026, sekitar pukul 14.00 WITA. Warga Dusun Sambaho bergotong-royong menandu remaja 17 tahun itu menuju titik terdekat yang bisa dijangkau mobil evakuasi. Perjalanan sejauh 7 kilometer itu tidak pernah tuntas.

Kontraksi hebat memaksa rombongan berhenti darurat di tengah jalur. Tanda-tanda persalinan kian dekat, sementara fasilitas kesehatan masih berjarak kilometer dari lokasi.

Rumah Warga Jadi Ruang Bersalin Dadakan

Bidan desa yang mendampingi mengandalkan rumah warga di pinggir jalan sebagai ruang bersalin darurat. Perlengkapan medis yang tersedia seadanya. Sebelum adzan Magrib berkumandang, seorang bayi laki-laki lahir.

Tangis bayi itu tidak bertahan lama. Tak lama setelah persalinan, bayi Salmawati mendadak berhenti bernapas akibat komplikasi dan minimnya peralatan medis di lokasi.

Tanpa alat bantu pernapasan yang memadai, bidan desa melakukan penanganan darurat seadanya agar detak jantung sang bayi kembali stabil. Situasi berubah menjadi kepanikan massal di antara warga yang menyaksikan.

Evakuasi Menembus Medan Berat ke Puskesmas Mambi

Dalam kondisi kritis, evakuasi lanjutan digenjot menembus medan berat hingga mencapai mobil ambulans yang menunggu di ujung jalan. Bayi dan ibunya kemudian dilarikan ke Puskesmas Mambi untuk penanganan lebih lanjut.

Kasus Salmawati bukan peristiwa tunggal di kawasan Pamoseang–Indobanua. Catatan menunjukkan, sepanjang tahun 2026 saja, sedikitnya 10 warga dari wilayah tersebut harus ditandu secara konvensional demi mendapatkan akses medis darurat.

Jalan yang Tak Tersentuh Roda Empat

Jalur darat di kawasan Pamoseang–Indobanua tidak tersentuh kendaraan roda empat. Jarak geografis yang ekstrem dan ketiadaan akses kendaraan membuat skema evakuasi medis berjalan lambat.

Kehadiran tenaga medis di wilayah terpencil itu tak lagi cukup tanpa didukung infrastruktur jalan yang layak. Bagi warga Pamoseang dan Indobanua, hak dasar atas kesehatan masih menjadi kemewahan yang sulit dijangkau.

Kasus Salmawati menjadi tamparan bagi pemerintah daerah maupun pusat. Seorang ibu muda harus mempertaruhkan nyawa dan bayinya di jalanan terjal, sementara fasilitas kesehatan tetap berada di luar jangkauan jalan yang bisa dilalui mobil.

Reporter: Yanto Prasetya
Sumber: sulbaronline.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top