SULAWESI BARAT — Pelatihan tiga hari itu menggandeng Sahabat Cipta dan berlangsung di dua lokasi: Rumah Kemas Batiwakkal untuk sesi teori, lalu Rumah Kebun Kakao PT Berau Coal di Kampung Birang untuk praktik lapangan. Hari terakhir diisi pembekalan komunikasi bagi peserta yang akan bertugas mendampingi petani lain di kampung masing-masing.
Peserta datang dari sedikitnya 17 kampung, mulai dari Gurimbang, Maluang, Merasa, Pegat Bukur, Rantau Panjang, Sambaliung, Suaran, Sungai Enau, Tumbit Dayak, Inaran, Batu-Batu, Limunjan, Birang, Pilanjau, Sambarata, Nyapa Indah, hingga Gunung Tabur.
Community Development Manager PT Berau Coal, Reza Hermawan, menyebut pelatihan ini merupakan kelanjutan pendampingan yang sudah berjalan. "Sepanjang 2024 hingga saat ini, kami telah melakukan pendampingan kepada sekitar 1.500 petani dengan luasan kebun kakao yang kita dampingi mencapai 850 hektare. Dari para petani tersebut, 40 orang terbaik kami pilih sebagai tahap awal untuk menjadi petani pemandu," ujarnya.
Peran petani pemandu dinilai krusial. Mereka tidak hanya membantu pengembangan kakao di tingkat kampung, tetapi juga menjadi penghubung antara petani binaan dan tim fasilitator lapangan YDBBC.
"Training of Trainers ini dilakukan untuk menciptakan petani pemandu yang terlatih dan dapat membantu petani lainnya di masing-masing kampung," jelas Reza.
Mulyadi, petani asal Kampung Gurimbang, merasakan langsung hasil pendampingan yang ia ikuti sejak 2025. Lahan kakao miliknya yang semula satu hektare kini berkembang menjadi dua hektare.
"Saya sudah mengikuti program ini sejak 2025 dengan lahan seluas satu hektare dan pertumbuhannya bagus. Tahun ini, alhamdulillah, berkembang menjadi dua hektare," katanya. Ia mengaku diajari mulai dari persiapan lahan hingga pemeliharaan, dengan pemantauan langsung dari tim Berau Coal.
Efeknya menular ke petani sekitar. Beberapa rekan Mulyadi di Kampung Gurimbang dan Tanjung Perangat mulai ikut bergabung dalam program serupa.
Kepala Bidang Pembinaan Sumber Daya Perkebunan Dinas Perkebunan, Heni Risnawati, menilai pendampingan berkelanjutan Berau Coal membantu meningkatkan kapasitas petani. Ia berharap ilmu dari instruktur disalurkan kembali ke petani lain agar semakin banyak yang mampu mandiri.
Camat Gunung Tabur, Lutfhi Hidayat, menyampaikan hal senada. Menurutnya, program ini memberi manfaat ekonomi bagi petani kakao sekaligus mendorong pemanfaatan lahan agar lebih produktif.
Bagi Berau Coal, pelatihan ini bagian dari Program Pemberdayaan Masyarakat yang menyasar pengembangan kakao sebagai alternatif ekonomi warga di sekitar area operasional tambang. Pendekatannya bukan sekadar bantuan sekali jalan, melainkan pendampingan bertahap dengan target melahirkan petani-petani pemandu yang bisa mereplikasi pengetahuan ke kampung lain di Kabupaten Berau.