SULAWESI BARAT — Pertumbuhan laba itu tidak terlepas dari ekspansi kredit yang mencapai 16,2 persen secara tahunan. Di saat bersamaan, rasio kredit bermasalah alias NPL justru turun dari 3,0 persen menjadi 2,9 persen—menandakan penyaluran kredit yang agresif tetap diimbangi manajemen risiko yang terjaga.
“Kinerja ini mencerminkan kemampuan BRI untuk terus mendorong pertumbuhan bisnis dengan tetap menjaga kualitas aset dan permodalan secara disiplin,” ujar Direktur Finance & Strategy BRI Achmad Royadi, Selasa (8/9/2026).
Di sisi permodalan, BRI mempertahankan rasio kecukupan modal (CAR) di level 21,5 persen. Angka ini berada di atas target jangka panjang perseroan yang dipatok minimal 20 persen.
Dengan posisi modal tersebut, perseroan memiliki ruang yang memadai untuk mendukung pertumbuhan bisnis ke depan tanpa harus mengorbankan kapasitas permodalan. Kondisi ini menjadi fondasi bagi BRI untuk terus menciptakan nilai yang optimal dan berkelanjutan bagi pemegang saham.
Bagi investor, angka CAR yang tebal dan NPL yang menurun adalah sinyal positif. BRI menegaskan komitmennya menjaga shareholder return di tengah akselerasi pertumbuhan bisnis, artinya ekspansi kredit tidak dilakukan dengan mengorbankan kesehatan fundamental.
Kinerja solid ini juga menjadi penegas posisi BRI sebagai salah satu bank dengan fundamental terkuat di segmen kredit mikro dan ritel Indonesia. Dengan pertumbuhan kredit 16,2 persen dan perbaikan kualitas aset, perseroan berada di jalur yang tepat untuk menutup tahun dengan catatan kinerja yang kuat.