MAMUJU — Upaya menggenjot sektor kelautan Sulawesi Barat kini menyentuh ranah kader muda. Pengurus Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) MPO Cabang Mamuju resmi menggandeng Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Sulbar dalam sebuah sinergi yang menyasar pemberdayaan ekonomi pesisir secara konkret.
Pertemuan yang berlangsung di ruang kerja Kepala DKP Sulbar itu dipimpin langsung oleh Ketua Umum HMI MPO Cabang Mamuju, Dahril, dan disambut oleh Kepala DKP Sulbar, Safaruddin. Suasana audiensi dilaporkan berlangsung cair, tetapi berisi pembahasan terukur tentang tiga agenda besar yang sudah dipetakan kedua belah pihak.
Agenda pertama menitikberatkan pada koordinasi program yang menyasar pemuda di Kabupaten Mamuju. HMI menempatkan diri sebagai jembatan antara kebijakan pemerintah dan energi mahasiswa di pesisir.
"Potensi kelautan Mamuju ini luar biasa, tapi butuh sentuhan anak muda agar lebih modern dan bernilai jual tinggi. Kami dari HMI siap menjadi mitra kolaboratif," ujar Dahril dalam keterangan yang diterima redaksi.
Poin ini dianggap krusial karena selama ini sektor kelautan kerap dipersepsikan sebagai pekerjaan tradisional. Padahal, dengan pendekatan kewirausahaan dan teknologi, potensi perikanan tangkap maupun budidaya bisa jauh lebih bernilai.
Audiensi ini tidak berjalan satu arah. Dahril dan jajarannya mengangkat sejumlah keluhan riil yang selama ini diterima dari nelayan tradisional dan pembudidaya ikan di Mamuju, mulai dari sulitnya akses permodalan, minimnya teknologi budidaya, hingga rantai distribusi hasil tangkapan yang belum efisien.
Kepala DKP Sulbar, Safaruddin, merespons langsung masukan tersebut. Ia menegaskan bahwa persoalan ini menjadi atensi serius Gubernur Sulawesi Barat, Suhardi Duka.
"Kami sangat mengapresiasi inisiatif adik-adik HMI. Tentu kami di DKP Sulbar menyambut baik. Persoalan nelayan dan pembudidaya ini menjadi atensi serius Bapak Gubernur. Kami butuh mitra kritis sekaligus solutif seperti HMI," tegas Safaruddin.
Dari sesi dialog itu, dua isu edukatif mengerucut. Pertama, perlunya mengubah pola pikir pemuda pesisir dari sekadar melaut secara tradisional menjadi wirausaha yang melek manajemen. Kedua, menggali prospek budidaya air tawar di Mamuju—seperti nila dan lele—sebagai penopang ketahanan pangan keluarga.
Yang paling menarik dari pertemuan ini adalah pemaparan program kerja HMI yang sudah dirancang untuk menyentuh pelaku UMKM secara langsung. Program tersebut mencakup pendampingan branding produk olahan hasil laut, pelatihan digital marketing, hingga advokasi bantuan alat tangkap dan bibit budidaya.
Kolaborasi ini diharapkan tidak berhenti di ruang rapat. Sinergi antara DKP sebagai pemegang kebijakan dan HMI sebagai penggerak pemuda dinilai sejalan dengan visi pembangunan Gubernur Suhardi Duka yang gencar mendorong optimalisasi potensi daerah bersama generasi muda.