SULAWESI BARAT — Tekanan terbesar Honda datang dari lini kendaraan listrik yang dinilai rugi besar. Perusahaan memperkirakan kerugian kumulatif terkait EV mencapai lebih dari USD 12,5 miliar — salah satu yang terbesar di antara produsen mobil global. Dengan beban seberat itu, Honda kini mengalihkan fokus utama ke mobil hybrid yang dianggap lebih realistis secara bisnis.
Pada Mei tahun ini, Honda melaporkan kerugian tahunan pertamanya sejak tercatat di bursa saham. Sebagai langkah penyelamatan, perusahaan membidik penghematan USD 9,4 miliar hingga 2030, seperti terungkap dalam dokumen internal yang beredar. Angka itu setara sekitar Rp 150 triliun dengan estimasi kurs Rp 16.000-an per dolar AS.
Salah satu jurus paling radikal adalah menekan rantai pasok. Pada musim semi tahun ini, jajaran manajer Honda menggelar pertemuan dengan pemasok utama di Utsunomiya, dekat fasilitas riset dan pengembangan perusahaan. Dalam forum itu, Honda memaparkan rencana untuk mengambil lebih banyak komponen dari suplier asal China. Setiap pemasok langsung diberi target penghematan biaya yang disesuaikan dengan kapasitas masing-masing perusahaan.
Targetnya tidak main-main. Honda meminta pemangkasan biaya hingga 30 persen pada tiga kategori suku cadang utama: komponen cetakan dan tempa, suku cadang kelistrikan, serta komponen yang terkait kendaraan berbasis perangkat lunak.
Pemasok lapis pertama (tier-1) juga didesak untuk meninjau ulang cara pengadaan bahan baku. Honda mendorong mereka memakai komponen standar yang bersumber dari pemasok tier-2 dan tier-3, sebuah langkah yang biasanya menuai resistensi karena menekan margin di seluruh mata rantai suplai.
Kebijakan ini punya dampak ganda. Di satu sisi, efisiensi biaya memungkinkan Honda tetap kompetitif melawan merek China di segmen entry-level hingga menengah—kategori yang paling sensitif terhadap harga. Bila berhasil, konsumen Indonesia bisa menikmati model hybrid dengan banderol yang tidak mencekik.
Di sisi lain, ada harga yang harus dibayar: potensi penurunan kualitas bahan atau fitur. Tekanan pemangkasan biaya sebesar 30 persen pada komponen kelistrikan dan software berisiko mengorbankan pengalaman pengguna bila tidak dieksekusi hati-hati. Sejarah industri otomotif mencatat, efisiensi ekstrem kerap menghasilkan keluhan durabilitas yang baru muncul setelah 3-5 tahun pemakaian.
Belum ada komentar resmi dari juru bicara Honda soal target pengurangan biaya atau perubahan kebijakan pemasok. Namun yang jelas, kalangan manajemen Honda tengah berkolaborasi dengan pemasok global untuk meningkatkan daya saing sembari menekan harga pokok. Pertanyaannya kini sederhana: apakah efisiensi ini akan menghasilkan produk yang lebih terjangkau tanpa mengorbankan reputasi keandalan yang selama puluhan tahun melekat pada logo sayapnya?