SULAWESI BARAT — Pelemahan harga perak Antam ini memutus tren kenaikan yang sempat terjadi pada perdagangan sebelumnya, di mana logam mulia tersebut dibanderol Rp 45.700 per gram. Berdasarkan laman resmi logammulia.com, Antam masih menawarkan beberapa varian produk perak, mulai dari batangan 250 gram, 500 gram, hingga butiran murni dengan kadar 99,95 persen.
Untuk perak batangan ukuran 250 gram, Antam membanderolnya di angka Rp 11.525.000. Sementara untuk ukuran 500 gram, harganya mencapai Rp 22.125.000. Penurunan harga ini terjadi di tengah aksi jual besar-besaran di pasar logam mulia global.
Di pasar internasional, harga perak melemah cukup dalam hingga 4,48 persen ke level US$ 66,15. Sebelumnya, harga perak sempat diperdagangkan di kisaran US$ 69 per ons pada Jumat pekan ini. Para pelaku pasar mulai mengurangi posisi kepemilikan mereka setelah mendengar pernyataan bernada hawkish dari Ketua The Fed, Kevin Warsh.
Dalam pidato penting pertamanya sejak menjabat pada Mei lalu, Warsh menegaskan bahwa laju inflasi belum melambat secara signifikan. Ia menyatakan para pembuat kebijakan masih perlu melihat bukti yang lebih jelas mengenai meredanya tekanan harga dasar. Jika tidak, bank sentral AS masih memiliki "pekerjaan yang harus diselesaikan".
Warsh juga menegaskan kembali komitmen The Fed untuk mengembalikan inflasi ke target 2 persen, sebuah tujuan yang ia sebut "tegas dan pasti". Ia menilai kondisi keuangan saat ini tidak bersifat restriktif, sehingga memberikan ruang bagi The Fed untuk bertindak lebih agresif.
Pernyataan tersebut langsung direspons pasar dengan meningkatkan probabilitas kenaikan suku bunga pada September hingga mendekati 50 persen, berdasarkan data CME FedWatch. Nilai tukar dolar AS pun menguat ke level tertinggi dalam lebih dari satu minggu, membuat harga emas dan perak yang diperdagangkan dalam mata uang dolar menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya.
Kondisi serupa juga dialami harga emas dunia. Pada Jumat (28/8/2026) atau Sabtu pagi WIB, harga emas spot terkoreksi 2,75 persen ke level US$ 4.474,45 per ons. Kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Desember juga terpangkas 3 persen menjadi US$ 4.524,10.
Analis independen Tai Wong menilai harga emas terpukul keras setelah pernyataan Warsh yang menegaskan inflasi belum melambat. "Meskipun pendekatannya mungkin kembali berupa 'bicara lantang namun bertindak terbatas', hal ini membuat pasar menilai hasil pertemuan September sebagai situasi yang tidak pasti, layaknya melempar koin," ujarnya.
Perangkat CME FedWatch menunjukkan peluang kenaikan suku bunga AS pada September kini mencapai 56 persen, naik signifikan dari 36 persen sebelum komentar Warsh. Sementara untuk Desember, peluangnya mencapai 80 persen. Kondisi ini membuat emas dan perak kurang diminati karena aset-aset tersebut tidak memberikan imbal hasil (yield) dalam lingkungan suku bunga tinggi.
Sebelumnya, pada Selasa pekan ini, logam mulia sempat mencapai level tertinggi dalam lebih dari tiga bulan di US$ 4.696,18. Tren kenaikan itu dipicu oleh pengumuman Departemen Keuangan AS mengenai langkah-langkah dukungan untuk obligasi berdurasi panjang. Namun, sentimen positif tersebut kini tergerus oleh sikap hawkish The Fed yang membuat investor kembali berhati-hati.
Bagi masyarakat Indonesia yang berencana membeli perak Antam sebagai instrumen investasi, pelemahan harga ini bisa menjadi momentum untuk akumulasi pembelian. Namun, volatilitas pasar yang tinggi akibat ketidakpastian kebijakan moneter AS tetap perlu diwaspadai dalam jangka pendek.