Kekayaan Elon Musk Tembus Rp14.400 Triliun, Tapi Mayoritas Pembaca Electrek Ragu Janji Sustainable Energy Akan Terealisasi

Penulis: Vino Bastian  •  Senin, 29 Juni 2026 | 17:17:01 WIB
Elon Musk kini memiliki kekayaan mencapai Rp14.400 triliun, menurut laporan Electrek.
Mars, meski kekayaannya kini mendekati 900 miliar dolar AS. Sentimen ini berubah drastis dari era awal Tesla di mana publik lebih fokus pada teknologi ketimbang persona publik sang CEO. Mayoritas responden menilai yang menghambat Musk bukanlah masalah dana, melainkan karakter dan prioritas pribadinya. ISI:

SULAWESI BARAT — Electrek, media yang fokus pada kendaraan listrik dan energi terbarukan, menggelar jajak pendapat sederhana pekan lalu. Pertanyaan intinya: setelah menjadi triliuner pertama di dunia, akankah Elon Musk akhirnya menepati janji-janji ambisius yang ia lontarkan selama bertahun-tahun—mempercepat transisi energi berkelanjutan, menghadirkan full self-driving tanpa pengawasan, membangun robot humanoid yang berguna, dan pada akhirnya menjadikan manusia spesies multiplanet? Hasilnya, dari lebih dari 3.300 suara yang masuk, suara ketidakpercayaan mendominasi.

“Bukan Soal Uang, Tapi Karakter”

Sepanjang sejarah awal Tesla, Musk selalu mengklaim misi perusahaannya adalah “mempercepat transisi dunia menuju energi berkelanjutan.” Ia membingkai tujuan akhirnya lebih besar dari sekadar membuat mobil listrik: atap rumah ditutup panel surya, baterai untuk menstabilkan jaringan listrik hijau, hingga pendanaan misi pertama manusia ke Mars pada paruh pertama 2019. Visi itu memang ambisius, dan banyak penggemar awal Tesla percaya pada idealisme progresif tersebut.

Namun, keputusan Musk untuk membawa politik pribadinya ke ranah publik membuat banyak pendukung awal mulai ragu. Kini, dengan kekayaan pribadinya yang melayang di angka 900 miliar dolar AS—setara lebih dari Rp14.400 triliun—kekurangan modal bukan lagi alasan. “Saat Elon masih menjadi miliarder 80-100 miliar dolar, ia ditantang untuk menyumbang sebagian kecil kekayaannya guna mengakhiri kelaparan dunia, dan ia memilih tidak,” tulis seorang pengguna dengan nama Weezedog1. “Ia punya uang untuk mengubah dunia jadi lebih baik, dan ia memilih tidak. Jika itu tidak memberi tahu segalanya tentang karakternya, saya tidak tahu apa lagi.”

Penimbunan Kekayaan vs Misi Kemanusiaan

Komentar lain lebih langsung: “Orang baik mungkin akan mencoba memperbaiki keadaan. Elon bukan orang baik, dan ia tidak berusaha menjadi satu.” Sementara itu, ada pula yang menyoroti dampak dari apa yang disebut sebagai gangguan menimbun kekayaan. “Menimbun kekayaan lebih besar dari gabungan kekayaan 3,8 miliar orang bukanlah tujuan, itu penyakit.”

Terlepas dari adil atau tidaknya komentar-komentar tersebut, semuanya mencerminkan pergeseran sentimen yang nyata. Sepuluh tahun lalu, perbincangan tentang Musk pasti berpusat pada teknologi perusahaannya dan misi mempercepat energi berkelanjutan. Kini, perbincangan lebih sering berfokus pada persona publiknya, aktivitas politik sayap kanan, dan apakah tindakannya masih sejalan dengan tujuan yang dulu menarik banyak pendukung awal.

Kritik Tajam soal Pemotongan Bantuan AIDS

Komentar teratas dari pengguna bernama Fazal Majid bahkan lebih tajam. Ia menyoroti bahwa setelah mendapat “cek kosong” dari penguasa paling kuat di dunia, Musk justru memotong program bantuan AIDS PEPFAR dari USAID—program yang dimulai oleh tokoh “sosialis” George W. Bush dan Jesse Helms. “Ini telah menyebabkan lebih dari satu juta kematian, sebagian besar anak-anak. Itu menjelaskan mengapa pembaca Anda tidak mengharapkan kebaikan apa pun dari miliarder. Ada pengecualian terhormat seperti Warren Buffett, tapi kebanyakan tampak bertekad membuat dunia menjadi tempat yang lebih buruk.”

Jajak pendapat ini memang bersifat informal dan hanya mewakili opini mereka yang memilih berpartisipasi. Namun, marginnya telak: hampir delapan dari sepuluh responden tidak percaya kekayaan tambahan akan membuat Musk menepati janji-janji awal yang dulu mendefinisikan tahun-tahun awal Tesla. Apakah Musk akan membuktikan mereka salah? Pada akhirnya, itu sepenuhnya terserah padanya.

Reporter: Vino Bastian
Sumber: electrek.co This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top