MAMUJU — Ibadah kurban yang dijalankan umat Islam setiap Hari Raya Iduladha bukanlah sekadar ritual tahunan. Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat, menekankan bahwa penyembelihan hewan kurban merupakan simbol ketakwaan dan bentuk kedekatan spiritual seorang hamba kepada Allah SWT.
Penyembelihan hewan kurban memiliki dimensi vertikal dan horizontal. Secara vertikal, ibadah ini menjadi bukti ketaatan seorang muslim atas perintah Allah. Secara horizontal, daging kurban yang dibagikan menjadi jembatan kebahagiaan bagi masyarakat yang kurang mampu.
Kemenag Mamuju mengajak seluruh umat Islam di wilayah tersebut untuk memahami makna ini. Ibadah kurban diharapkan dapat memperkuat solidaritas dan kepedulian antarwarga, terutama di momen Iduladha.
Setiap tahun, panitia kurban di masjid-masjid dan musala di Mamuju mulai melakukan pendataan hewan kurban jauh-jauh hari. Proses pemotongan dan distribusi daging biasanya melibatkan pengurus masjid dan pemuda setempat.
Kemenag setempat juga mengimbau agar proses penyembelihan dilakukan sesuai syariat. Kebersihan dan kesehatan hewan kurban menjadi perhatian utama sebelum daging dibagikan kepada warga.
Lebih dari sekadar tradisi, kurban mengajarkan keikhlasan dan pengorbanan. Kisah Nabi Ibrahim AS yang rela mengorbankan putranya, Nabi Ismail AS, menjadi fondasi utama ibadah ini. Nilai keteladanan inilah yang coba dihidupkan kembali setiap Iduladha.
Kemenag Mamuju berharap semangat berkurban tidak hanya berhenti pada hari raya. Nilai-nilai berbagi dan kedekatan kepada Allah diharapkan terus terpatri dalam keseharian umat muslim di Sulawesi Barat.