MAMUJU — Sumarni (42) berkeliling sejak subuh. Ia mendatangi lebih dari lima warung eceran di Kecamatan Simboro hingga Rimuku. Hasilnya nihil: tabung melon kosong di mana-mana. Kini ia menunggu di sebuah pangkalan yang belum pasti kapan mendapat kiriman.
"Besok kan mau dipakai buat merebus daging kurban dan bikin rendang, itu kan butuh waktu lama masaknya. Kalau gasnya tidak ada, besok kami sekeluarga tidak bisa makan apa-apa. Pemerintah ke mana, mau lebaran di Mamuju malah susah begini?" keluh ibu rumah tangga itu kepada Sulbaronline.com, Selasa (26/5/2026).
Di warung eceran yang masih kebagian stok, harga elpiji 3 kg meroket drastis menjadi Rp35.000 hingga Rp40.000 per tabung. Padahal, harga resmi bersubsidi untuk rumah tangga miskin seharusnya berkisar di bawah Rp20.000.
Kelangkaan menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) ini seolah menjadi ritual tahunan yang gagal diantisipasi. Secara historis, konsumsi gas melonjak tajam saat Idul Adha seiring meningkatnya aktivitas memasak rumah tangga dan pelaku UMKM kuliner yang menyiapkan hidangan daging kurban.
PT Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi merespons dengan menggelontorkan pasokan tambahan ke seluruh wilayah operasional. Khusus untuk Sulawesi Barat, perusahaan menyiapkan tambahan penyaluran fakultatif sebanyak 26.000 tabung dan pasokan ekstra (extra dropping) sebanyak 10.000 tabung. Total tambahan untuk Sulbar mencapai 36.000 tabung.
Secara keseluruhan, Pertamina mengalokasikan sekitar 406.000 tabung fakultatif dan 252.000 tabung pasokan ekstra untuk enam provinsi di Sulawesi. Penyaluran fakultatif dijadwalkan pada Rabu, 27 Mei 2026, sementara pasokan ekstra akan dikirim secara bertahap.
Area Manager Communication, Relation, & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi, Lilik Hardiyanto, menyatakan penguatan stok ini merupakan langkah nyata mengurai kelangkaan. "Pertamina terus melakukan monitoring distribusi dan penyaluran energi di seluruh wilayah Sulawesi agar kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi selama momentum Hari Raya Idul Adha," ujarnya dalam keterangan resmi.
Dari total tambahan se-Sulawesi, Sulawesi Selatan mendapat porsi terbesar: 205.000 tabung fakultatif dan 135.000 tabung ekstra. Disusul Sulawesi Utara (65.000 + 24.000), Sulawesi Tenggara (51.000 + 22.000), dan Sulawesi Tengah (31.000 + 43.000). Gorontalo kebagian jatah yang sama dengan Sulbar, yakni 26.000 tabung fakultatif dan 14.000 tabung ekstra.
Meski demikian, warga seperti Sumarni masih menanti kepastian kapan tabung-tabung itu benar-benar tiba di pangkalan. "Katanya nunggu kiriman yang belum jelas kapan datangnya," ujarnya, lesu.